Seh Sura-Sura
latergejap enggo empat tahun
kepe kuliah ndai Nande
lanai tanggung buena latihndu
latih bas daging bagepe bas ukur
siugapana pe nggo nge terjadi
bas geluhndu
lewat wari reh kange minggu
lewat minggu tande bulanna
seh dungna ku tahun
matawari epe jine nggo medu ngidahsa kam
tiap wari ku juma
tapi bagem
bagekin atendu
bas tande menda tahunna, Bapa
suh kange kepe sura-suranta
sura-sura anak sintua
jadi Sarjana
Rabu, 11 Juni 2014
Selasa, 26 Februari 2013
Padi Lahlah
Tertangis Iba
Hujan angkat suara
Teriak sekuat tenaga
Iba pada bumi yang dahaga
Sehari berjalan masih biasa
Tiga hari berselang khawatir pun tiba
sekarang ketakutan mendera
Paya Lahlah kami yang tercinta
Persawahan yang mulia
padanya kami setia
menuai hasil tiap tahunnya
hari ini berbeda
hujan tak mau reda
padi kami tertangis mengiba
Air telah datang setingginya
Kami jua tak punya daya
Paya Lahlah kami tercinta
kemana harus kami bersua
agar pertolongan datang kiranya
Kamis, 06 September 2012
Sahabat
Sahabat, waktu
begitu cepat berjalan sehingga kata-kata perkenalan di awal perkuliahan dulu
kini telah berdengung jadi sahabat.
Sahabat, kemarin
dalam kesunyianku engkau datang menemaniku sehingga aku tak kesepian.
Sahabat, hari demi hari kita telah lalui.
Banyak kenangan yang tersisa setiap gerak yang kita lakukan. Bagiku hal ini
yang menarik dan akan terkenang, tapi bagimu hal lain pula yang menarik
sehingga jika kita satukan kenangan itu barangkali akan terbentuk perjalan
hidup bersahabat anak manusia dalam bentuk novel.
Sahabat,
perjalanan panjang dalam kuliah ini bagiku sebuah catatan sejarah yang akan
tetap terpahat di liang seluruh organ tubuhku. Bagaimana tidak? Sekeliling
kampus dan jalan-jalan yang telah kita lalui, itu dinikmati oleh mata, telinga,
lidah, kulit, dan juga hidung. Bukan berkata lebih, andaikata direkam menjadi
sebuah video maka akan tampak bagaimana raut wajah kita, tutur kata, bau-bau
yang tercium oleh kita, begitu ramainya taman kehidupan ini oleh manusia dan
alat-alatnya, hingga angin semilir yang tak tertangkap oleh kamera pun mampu
kita narasikan dengan sebenar-benarnya. Sungguh luar biasa, sahabat.
Sahabat, hari
ini kita telah semester empat. Kita pula yang berkelompok beranggota empat.
Sahabat, aku
teringat kata-kata kita kemarin yang telah berjanji dengan studi empat tahun
untuk gelar sarjana. Masihkah engkau ingat sahabat? Banyak juga yang tersisa
lewat goresan kata dan derap langkah kita. Buktinya kita akan selalu
bersalaman. Kau, aku, dia, kita berempat, bagai saudara yang telah ditakdirkan
akan bertemu dalam ruang yang sama, dalam tujuan yang sama, dalam waktu yang
ditentukan, dalam umur yang beda, dalam kesatuan hati sehingga terbentuk sebuah
ikatan dalam hati kita.
Sahabat, ya,
itulah namanya.
Sahabat, di sana
engkau berangan setiap kali masa liburan tiba. Kita yang berasal dari suku
bangsa yang beda, jenis kelamin yang beda, warna kulit yang beda,
intelektualitas yang beda, bakat yang beda, watak yang beda, daerah yang beda,
tapi sungguh luar biasa.
Sahabat, kata itu
perekat kita.
Sahabat, setiap
kali kata yang teruntai dalam kalbu ingin mendeskripsikan setiap cerita tentang
kita, anganku melayang. Alangkah bahagianya diriku bisa bersahabat dengan
engkau.
Sahabat,
teringat saat musim liburan semester tiga lalu, saat kita melepas seluruh beban
di pundak karena di penghujung kuliah. Kita berempat duduk bersama di teras
casablanka itu. Lorong yang menjadi saksi atas kesumringahan senyum kita. Kita
bergembira akan melepas semua penat selama satu semester. Ancangan berlibur di
rumah orangtua.
Sahabat, hari
ini hari minggu. Pagi betul aku ingin mengabadikan jejak perjalanan kita dalam
semester ini. Walau hari telah berlalu sehari untuk kata libur tak apalah.
Sahabat, semalam kita tak bertemu seperti biasa. Biasanya kita akan berjumpa
untuk kata sapa untuk berlibur.
Sahabat, jika
kuputar kembali rakaman yang tersisa di otak ini sekitar sepak terjang kita
semester empat ini, barangkali tak cukup memori labtop ini menyimpannya. Ya,
aku tahu ini terlalu berlebihan, tapi itulah kita—sahabat.
Sahabat, tersisa
di otak ini bagaimana kita kejar tanyang mengerjakan tugas yang telah menumpuk.
Kejar tayang untuk menyelesaikan makalah dalam semalam. Tapi, sahabat, itu jadi
juga. Di situ presentasi di situ belajar. Oh, sungguh sahabat, sungguh luar
biasanya kita. Memang itu semua berkat dan karunia-Nya.
Sahabat, jika
aku melihat hari ini hati kita kian menipis. Menipis kumaksud mulai retak
sedikit demi sedikit. Aku tak tahu apa sebab musababnya. Tapi, aku hanya
berharap jangan biarkan dia terlalu lama karena hati ini bagai besi, terlalu
lama ia tak dibersihkan akan digerogoti oleh karat hingga akhirnya keropos dan
habis.
Sahabat, aku
terkadang terbayang. Setiap dari kita dua puluh tahun ke depan? Aku
membayangkan akan ada seseorang di sampaing kita menjadi pendamping hidup atau
bahkan ada anak sebagai pelengkap keluarga. Dan lebih jauh lagi, aku sangat
ingin ada di antar kita datang dan berkata “Sahabatku, semalam aku baru pulang
dari luar negeri (entah dimana pun itu) menyelesaikan studi doktorku”. Ya,
itulah salah satu anganku. Dan aku juga tak berharap muluk-muluk, sekiranya
juga tidak demikian, yang terlihat barangkali engkau masih tak malu mengakui
bahwa kita dulu bersahabat, seperjuangan dalam mengisi kepala dan hati,
menjalani hidup sebagai warga unimed yang sejuk, atau lebih lengkapnya di
jurusan sama, dan kelas yang hampir selalu sama.
Sahabat, aku tak
berkata aku telah mewarnai hidupmu atau kau telah mewarnai hidupku. Tapi, yang
kurasakan adalah kita telah berbagi warna sehingga tak ada beda.
Sahabat, jika
nanti kan ada waktu tuk terus bersama barangkali kisah dan perjalanan akan
tertulis lebih panjang. Dan barangkali jika kita telah berpisah, maka akan kau
temui lagi sahabatmu yang barangkali engkau kan menyampaikan secuil tentang
sahabatmu yang bagimu itu menarik untuk dibagi. Dan aku akan sangat senang
dengan hal itu.
Sahabat, kata
orang dia cemburu dengan kekompakan kita, tapi kataku bukan ia cemburu, tapi ia
ingin berbagi bagaimana cara membuat orang merasa bersahabat dengannya. Ya,
itulah sahabat...
Tertanda
Sahabatmu,
Justianus Tarigan
Senin, 07 Mei 2012
puisi
Ndauh
ndauh tuhu sura-sura matigan.
erjingkang la tertondul.
Bas kinidauhen e lit kange rongketna.
meser tuhu nanam nggeluh adi ngasamken kinigegehen ukur
nandangi sura-sura.
gelah ula min pagi
talu sura-sura ban pengindo.
mela teman, mela mulih la maba ulih.
nina terbegi lagu kalak perburu.
la kusia-siaken pagi bekas ulih latih nande ras bapa.
ndauh tuhu sura-sura matigan.
erjingkang la tertondul.
Bas kinidauhen e lit kange rongketna.
meser tuhu nanam nggeluh adi ngasamken kinigegehen ukur
nandangi sura-sura.
gelah ula min pagi
talu sura-sura ban pengindo.
mela teman, mela mulih la maba ulih.
nina terbegi lagu kalak perburu.
la kusia-siaken pagi bekas ulih latih nande ras bapa.
Selasa, 13 Desember 2011
MENGEMBANGKAN BAHASA
DAERAH MELALUI CERITA PENDEK
oleh: Justianus Tarigan
a.
Pendahuluan
Indonesia yang
terdiri atas beragam suku bangsa, agama, ras, dan budaya menjadi salah satu
kebanggaan yang tiada ternilai harganya. Kebanggaan ini telah terpupuk sejak
dulu sehingga sampai hari ini kebhinekaan itu dapat terlestari di bumi Maritim
ini. Tak dipungkiri keberagaman itu juga membuat orang Indonesia terkenal
hingga seluruh dunia.
Salah satu dari
keberagaman budaya Indonesia yang wajib dibanggakan pula adalah bahasa. Indonesia
yang memiliki beragam suku bangsa sehingga bahasanya juga beragam. Bahasa Karo
dari suku Karo, bahasa Batak dari suku Batak, bahasa Jawa dari suku Jawa, bahasa
melayu dari suku Melayu, dan masih banyak lagi yang tak dapat disebutkan satu
per satu.
Keberagaman bahasa
yang ada di Indonesia tak menjadi perpecahan karena kesadaran dan kesatuan
seluruh rakyat Indonesia. Ketika terjadi peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal
28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh beragam suku bangsa namun menyatukan suara
dan tekad yang bulat sehingga muncullah dengan kegagahan bahasa Indonesia
sebagai bahasa perekat keberagaman itu. Itulah awalnya bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan. Dan lebih lanjut diatur dalam UUD 1945 pasal 36.
Kelahiran bahasa
nasional itu bukan berarti menyingkirkan bahasa daerah. Menurut Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 40 tahun 2007 bahwa “Bahasa
Daerah adalah bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi
antar anggota masyarakat dari suku-suku atau kelompok‑kelompok etnis di daerah‑daerah
dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Lebih lanjut dijelaskan
dalam bab II pasal 2 poin b tentang tugas kepala daerah, dinyatakan bahwa “Pelestarian
dan pengembangan bahasa daerah sebagai unsur kekayaan budaya dan sebagai sumber
utama pembentuk kosakata bahasa Indonesia.” Pernyataan ini mempertegas kepada
kita bahwa kelangsungan bahasa daerah juga diprioritaskan.
Ironisnya pada saat sekarang ini banyak masyarakat yang kurang
memperhatikan bahasa daerah. Buktinya, dibelakang namanya ada embel-embel kesukuan.
Maksudnya ada marganya, tapi tidak bisa berbahasa seperti bahasa suku
bangsanya. Lebih parah lagi, adanya anggapan bahwa tidak zamannya lagi
menggunakan bahasa daerah. Ia akan merasa lebih gengsi jika bahasa Indonesia
sebagai bahasa ibunya dan bahasa asing sebagai bahasa kedua atau ketiga.
Demikian parahnya pendapat itu, ternyata ada juga yang berpikir lain.
Ialah orang-orang yang gemar mempelajari bahasa daerah atau paling tidak ia
berpikir bahwa bahasa daerah itu wajib dilestarikan. Sejalan dengan hal di
atas, jika pandangan diarahkan ke arah sastra, maka banyak ditemui kosakata
bahasa daerah yang dijadikan sebagai bumbu penyedap tulisannya. Katakanlah saja
penulis sastra Hasan Albanna. Cerita pendeknya banyak mencampurkan bahasa
daerah sebagai bumbu tulisannya. Demikianlah yang membuat penulis mengangkat tema tentang sastra khususnya cerita
pendek sebagai media untuk mengembangkan bahasa daerah.
a.
Bahasa Daerah Sebagai Salah Satu Gaya Pengarang
Dalam Cerita Pendek
Cerita pendek yang merupakan bagian dari karya satra
sering menyerap bahasa daerah sebagai alat mengungkapkan ide dalam ceritanya.
Pengarang membumbui cerita pendek itu dengan bahasa daerah yang rasanya pas
untuk diletakkan mewakili ide yang disampaikan. Tentunya dalam penggunaan bahasa
daerah tersebut si pengarang paham betul makna kata yang diserapnya. Jika tidak
maka itu sama artinya mempermalukan diri di hadapan penikmat tulisannya. Kata
yang salah letak/tidak cocok digunakan bukan berarti mewakili ide yang dimaksud
melainkan mengacaukannya.
Penggunaan bahasa daerah dalam sebuah cerita pendek
sebenarnya tidak terlepas dari latar belakang kebahasaan dan kesastraan
pengarang. Waluyu (2008:19) menyatakan ketika sastrawan ingin menyampaikan
pesannya, ia harus mempergunakan bahasa sebagai mediumnya. Bahasa tersebut
harus dimengerti oleh pembacanya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan juga
berangkat dari bahasa natural, yakni bahasa yang digunakan berkomunikasi
sehari-hari. Meskipun demikian, dengan berbekal bahasa natural tersebut, sastrawan
menciptakan sendiri bahasa yang sesuai dengan sistem sastra.
Jadi, jika seorang sastrawan menggunakan bahasa daerah
Karo misalnya maka bisa dipastikan ia berasal dari daerah Karo atau ia memang
mengerti bahasa Karo. Tapi, perlu juga dipahami bahwa tidak selamanya bahasa
suku bangsa pengarang yang muncul dalam karyanya. Bisa saja pengarang bersuku
Minang, tapi karena sejak kecil ia berada di lingkungan Batak, maka yang
tercermin di karyanya itu adalah bahasa Batak karena ia tidak memahami bahasa
daerahnya sendiri.
b. Analisi Penggunaan Bahasa Daerah Dalam Cerita Pendek Indonesia
Bahasa daerah
seperti yang dijelaskan di atas sering dicampurkan dengan bahasa Indonesia
dalam cerita pendek. Terbukti dari analisis yang dibuat ditemukan banyak bahasa
daerah yang digunakan pengarang dalam karya sastranya khususnya cerita pendek.
Tiga kumpulan cerita pendek yang dijadikan bahan rujukan membuktikan penggunaan
bahasa daerah dalam cerita pendeknya.
Hasil analisi
itu akan dijelaskan di bawah ini.
1.
Kumpulan cerita pendek yang berjudul Pelajaran Mengarang: Cerpen Pilihan Kompas
1993
“Saat tiba buka-buka bingkisan, aku mendapat
pengertian atau lebih tepatnya kebahagian lain dari makna menunggu. Untuk
beberapa lama, perhatian terpecah antara aku, Titin, dan puluhan bingkisan yang
masing-masing memang sudah kubungkus rapi itu. tawa, senyum dan seruan tertahan
menggema. Bergantian mereka memandang dan mencium bingkisan yang mereka terima
dan wajahku. “Makasih, Tin”, “Nuhun nya2,
Tin,” kata mereka, atau “Tengkyu, Teh” jerit Ical, si bungsu yang mendapat jam
tangan karet produksi dalam negeri Arab Saudi.”
(dikutip dari cerpen Titin Pulang
dari Saudi karya Radhar Panca Dahana halaman 117)
Keterangan: Nuhun
nya artinya terima kasih ya
“Banyak juga ya, Tin,” kata ibuku tersenyum.
“Bisa beli angkot4,
Teh!” sambung Deden adikku.
“Entong,
peserkeuen wae sawah5, “ kakak lelaki ikutan.
“Cenah, reg
kawin deui6 ,” susul kakak perempuan, Ema.
“Husy!” Ibu membentak. Aku tersenyum.
(dikutip
dari cerpen Titin Pulang dari Saudi
karya Radhar Panca Dahana halaman 118)
Keterangan:
4. angkutan kota
5.
Jangan, belikan saja sawah
6.
katanya, hendak kawin lagi
“Kang
Dani kemarin nanyain Teteh7
,” Avi menyambung.
“Dani,
anak Pak Kapten? Jagger8 terminal
Jubleg?” tanya ibu.
(dikutip
dari cerpen Titin Pulang dari Saudi
karya Radhar Panca Dahana halaman 119)
Keterangan:
7. Teh atau teteh: kakak perempuan
8.Jagoan
atau centeng
Di tengah riuh suara mereka, aku mengedarkan
pandangan. Pada dinding bilik yang rontok separo kapurrnya, lemari makanan yang
tak berpasak lagi engselnya, lampu tempel, petromaks hitam, lantai setengah
tanah, risbang9 peot,
bilik atap bolong, daster adikku yang pucat, samping10 ibu yang kumal, dan ah.. sederet
panjang lagi pemandangan yang membutuhkan uang.
(dikutip
dari cerpen Titin Pulang dari Saudi
karya Radhar Panca Dahana halaman 119)
Keterangan:
9 tempat tidur (dari kata Belanda,
rustbank)
10
kain, kebaya, jarik (Jawa)
“Pakai
saja untuk kawin, Tin,” anjur ibuku. Aku menggeleng. Apalagi kalau calonnya
Kang Dani, cowok pangeretan15.
(dikutip
dari cerpen Titin Pulang dari Saudi
karya Radhar Panca Dahana halaman 118)
Keterangan:
15. suka meminta
2. Kumpulan cerita pendek yang
berjudul Purnama di atas Raya
“Bocah itu sangat suka menyaksikan purnama
bertengger di pucuk-pucuk meru pura.
Cahaya pura telah memesona dan menyihir mata kanak-kanaknya. Sementara warga
desa lainnya sibuk sembahyang, ia bersama kawan-kawan sebayanya bermain petak
umpet di areal pelaba pura dekat
pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Ia paling senang menyembunyikan
dirinya di balik pohon beringin satu-satunya yang tumbuh di situ. Dari sana ia leluasa menatap
purnama, tanpa mesti cemas akan tertangkap kawannya. Sebab tak seorang pun yang
berani mendekati pohon beringin yang konon angker itu. (Dikutip dari cerpen Pernama di atas Pura karya Wayan Sunarta
halaman 9)
Keterangan:
Meru
adalah salah satu bentuk bangunan yang biasanya ada dalam pura.
Pelaba
pura: tanah milik pura yang biasanya berlokasi yang tidak jauh dari areal pura
Usai persembahyangan bersama yang baru kali ini aku
lakukan sejak menetap di Jakarta, aku melihat-lihat keramaian di areal pelaba pura. Tempat itu telah berubah
menjadi arena berjualan bila ada odalan
di pura. Sejumlah pohon kelapa telah ditebangi sehingga pelaba pura menjadi lebih lapang bagi para pedagang. Kedai-kedai
kopi yang buka sampai pagi bersandingan dengan warung makanan, penjual mainan
anak-anak, penjual pakaian. Ada juga penjual kaset dan CD bajakan yang
ddikerumuni muda-mudi usai sembahyang. Mereka memutar keras-keras kaset bajakan
yang mengumandangkan lagu dangdut Inul Daratista, seolah ingin menyaingi suara loudspeaker dari dalam pura yang
mengalunkan genta pemangku dan
kidung-kidung upacara. (Dikutip dari cerpen Pernama
di atas Pura karya Wayan Sunarta halaman 13 )
Keterangan:
Odalan:
upacara besar di suatu pura, biasanya setiap 6 bulan sekali.
Pemangku:
orang yang dipilih melalui suatu proses ritual untuk menjadi pemimpin suatu
pura dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan segala jenis ritual/upacara
dalam pura tersebut.
Menurut warga desa, siang tadi tajen juga digelar di
tempat itu. kabarnya tajen akan terus digelar sampai odalan selesai. “Tajen itu
digelar mengumpulkan dana memperbaiki wantilan pura yang telah rusak,” jelas
seorang warga. Aku hanya bisa melongo mendengar penjelasan polos itu. (Dikutip
dari cerpen Pernama di atas Pura
karya Wayan Sunarta halaman 13-14)
Ket:
Tajen:
permainan judi sabungan ayam gaya Bali
Wantian:
bangunan serba guna yang merupakan bagian dari kompleks pura
Muli
Sikep yang mengayuh perahu itu kembali muncul dari balik gumpalan kabut. Dia
mengayuh perahu sangat tenang, penuh irama, penuh rasa, seakan menghayati gerak
kabut yang perlahan tersibak oleh alunan laju perahu. (Dikutip dari cerpen Muli Sikep karya Wayan Sunarta halaman
58)
Keterangan:
Muli Sikep
: sebutan khas Lampung untuk perempuan cantik/anggun
Tiyuh
di tepi danau tempat aku tinggal terdiri dari sekitar 66 kepala keluarga. Tidak
begitu banyak seperti tiyuh-tiyuh
lainnya di lembah pegunungan ini. Nuwo-nuwo
mereka sangat sederhana. Dinding nuwo
disusun dari kayu yang memang mudah didapat di hutan sekitar danau. Atapnya
juga dari pelepah kayu yang biasa dipakai atap oleh penduduk di daerah
pegunungan. (Dikutip dari cerpen Muli
Sikep karya Wayan Sunarta halaman 59)
Keterangan:
Tiyuh:
kampung
Nuwo:
rumah
Bulan bercahaya penuh, mengmbang di atas danau.
Samar-samar terdengar talo balak dan kulintang peking saling bersahutan.
Mungkin sedang ada pesta canggot bakha di
sebuah sesat di tiyuh sebelah. Oh... alangkah cerianya pesta itu. Muli Mekhanai yang ayu dan cantik-cantik
akan larut dalam kegembiraan, berebut perhatian dan berlomba kepiawaian
menyusun kata-kata dalam pisaan. Dan
tentu para bujang lelakinya akan sibuk menata gerak menunjukkan jurus-jurus
gemulai khakot. Tentu tiyuh akan riuh dengan tetaboh talo balak dan kulintang pekhing saat purnama penuh seperti malam ini. kenapa aku
tidak ke tiyuh sebelah saja menghibur
diri? Duh... kenapa pikiranku diliputi oleh Muli
Sikep itu? (Dikutip dari cerpen Muli
Sikep karya Wayan Sunarta halaman 66)
Ket:
Talo balak:
perangkat alat musik tradisional Lampung
Kulintang pekhing:
perangkat alat musik tradisional Lampung
Canggot bakha:
pesta adat muda-mudi Lampung
Sesat:
balai adat
Muli Mekhanai:
gadis yang belum menikah
Pisaan:
pantun khas Lampung
Khakot:
pencak silat khas Lampung
Lelaki yang dipanggil Tangeb menyeruak dari
kerumunan para bebotoh. Berjalan dengan santai menjinjing kisa menghampiri
Brengos yang bermuka masam. (Dikutip dari cerpen Tajen karya Wayan Sunarta halaman 103)
Keterangan:
Bebotoh:
sebutan penjudi sabungan ayam
Kisa:
tempat aduan ayam
3. Kumpulan cerita pendek yang
berjudul Sampan Zulaiha
Memang, Risda termasuk yang paling keras melarang
Haji Sudung menikah. Juga tak bosan-bosan melunakkan hati Amangboru-mertua-untuk tinggal bersamanya. Haji
Sudung angkat topi dengan keuletan menantunya itu. maka Risda adalah salah satu
alasan Haji Sudung menganggukkan kepala atas keinginan anak-anaknya. (Dikutip
dari cerpen Rumah Amangboru karya
Hasan Albana halaman 3)
Di sisi lain tertera tulisan: Simbur Magondang (Sehat dan Lekaslah besar). Tulisan-tulisan itu
dirajut dengan manik-manik putih di atas kain yang didominasi warna hitam dan
merah hati. Kedua warna itu berpadu dengan motif kuning, hijau, ungu, dan
orange. Tenunan yang kuat, cantik, dan serasi. Teringatnya, untuk kali kedua ia
menerima kain yang sejenis. Dulu saat menikah, Lamrida pernah mendapat abit
gondang. (Dikutip dari cerpen Parompa
Sadun Kiriman Ibu karya Hasan Albana halaman 19)
“Ibu bangga menjadi janda karena marsarak tumbilang, cerai
karena kematian. Dan ibu pernah berjanji, kalau ditinggal ayahmu karena marsarak tumbilang, Ibu tak akan menikah
lagi. Sekalipun Ibu masih muda.” (Dikutip dari cerpen Parompa Sadun Kiriman Ibu karya Hasan Albana halaman 22)
Sebab, selain tak membekaskan rasa hangat, sudah
berulang dinyalakan, selalu padam oleh guguran embun malam. Bahkan loting—geretan sumbu berminyak
lampu—ompung Luat tak mampu memercik lagi. Dan iya, memantik seperti api ke
pucuk rokoknya serupa hasrat yang berkarat. (Dikutip dari cerpen Pasar Jongjong karya Hasan Albana
halaman 34)
Bukankah ia pemilik tanah, juga hatobangon—tetua kampung yang dihormati? Begitupun,
ia dibantu Ustad Tajuddin yang tamatan IAIN untuk mengurus tenaga pengajar dan
materi belajar untuk murid-murid mengaji. (Dikutip dari cerpen Pasar Jongjong karya Hasan Albana
halaman 37)
Belakangan, madrasah berfungsi sebagai balai
pertemuan, untuk mengaji kaum ibu, acara maulid, isr’ mi’raj, dan rapat naposo nauli bulung
(lajang-gadis kampung).pendek kata, orang-orang kampung turut
menggunakannya untuk kepentingan beragam. (Dikutip dari cerpen Pasar Jongjong karya Hasan Albana
halaman 38)
Benar, pada kesempatan kali ini hanya seekor ayam
yang bisa disajikan Deslima. Tapi jangan salah, ini ayam kampung terbaik: jara-jara! Ayam jara-jara, belum genap setahun umurnya, sekilo lebih
sedikit timbangannya. Jara-jara
jantan tentu masih lunak tunas tajinya. Sedangkan jara-jara betina belum
sekalipun menetas. Alah, kalau digulai, dagingnya lembut, manis lagi lemak,
dan tidak menerbitkan lendir. (Dikutip dari cerpen Kurik karya Hasan Albana
halaman 56)
Namun, demi menurutkan Giling, Deslima mengalah.
Kurik pun selamat dari jangkauan pisau. Ia memilih meinjam uang ke hombar balok—tetangga sebelah,
lalu membeli sekilo daging, direndang dengan kacau parau untuk lauk sahur
perdana. (Dikutip dari cerpen Pasar
Jongjong karya Hasan Albana halaman 57)
c.
Kesimpulan
Penjelasan di atas telah memberikan
pemahaman kepada kita bahwa untuk melakukan pengembangan bahasa daerah bukan
hanya dilakukan melalui pendidikan forrmal saja. Cerita pendek yang gaya
tulisannya bisa mencampuradukkan antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah
ternyata selain menambah kekhasan tulisan juga bisa mengembangkan bahasa
daerah.
Selain hal itu, budaya daerah yang
sangat beragam kiranya juga menarik untuk diangkat sebagai tema cerita pendek
sehingga memungkinkan menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai karya
sastra yang mengangkat budaya lokal dan mengembangkan bahasa daerah ke pentas
sastra nasional. Dengan demikian, jika pun kekurangan kosakata, maka bahasa
daerah yang telah menasional itu dapat diserap menjadi bahasa Indonesia.
d.
Daftar Pustaka
Albanna, Hasan.2010. Sampan Zulaiha. Depok:
Koekoesan
PT Kompas Media Nusantara.1993. Pelajaran Mengarang:
Cerpen Pilihan Kompas 1993. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra.
Jakarta: PT Grasindo
Sunarta, Wayan.2005. Purnama di atas Pura. Jakarta:
PT Grasindo
Senin, 14 November 2011
Entahlah
Tulisanku Cerminan Prinsipku
Oleh Justianus Tarigan
Tersebarluasnya puisi "Ibu Indonesia" yang dibacakan langsung oleh penciptanya, Sukmawati, membuatku memiliki sebuah ide untuk menuliskan sebuah tulisan. Tulisan yang kumaksud di sini bukan menganalisis isi puisi tersebut. Yang kumaksud adalah mengenal diri atau orang lain dari karya sendiri atau karya orang lain tersebut.
Dalam teori menulis disebutkan bahwa tulisan adalah buah pikiran penulisnya. Buah pikir ini adalah mewakili gagasan atau prinsip hidup yang dipegangnya. Sehingga penulis yang menuliskan sebuah tulisan dapat dilihat dari tulisan itu prinsip-prinsip hidup yang dipegangnya.
Penulis dengan mengedepankan kesantunan berbahasa dan memberi ide yang positif bisa diartikan bahwa penulisnya memang memiliki pandangan hidup seperti itu. Sebaliknya, penulis yang menuliskan tulisan provokasi memberi arti bahwa penulisnya memiliki jiwa provokasi. Namun, terkadang, penulis berpura-pura juga. Menulis sesuatu tetapi sebenarnya dia tidak menginginkan seperti itu. Lebih tepatnya, penulis itu membuat tulisannya aman saja.
Beragam tipe penulis inilah yang membuat saya paham bahwa setiap penulis punya prinsip-prinsip hidup yang berbeda. Yang tidak saya paham adalah mengapa ada penulis menulis suatu tulisan di luar kapasitasnya. Dia menulis seolah-olah dia paham yang ditulisnya tetapi mengatakan dia seb3narnya tidak paham. Bukankah sesuatu yang tidak diketahui tapi dibicarakan maka kemungkinan lebih banyak unsur salah daripada unsur benarnya?
Akhir kata, menulis memang baik karena menyalurkan pikiran untuk dapat dibaca oleh generasi selanjutnya. Namun jangan lupa, menulis juga punya batasan yang tak harus menyinggung suatu pemikiran orang lain. Menulislah dalam koridor yang dipahami. Menulislah dalam prinsip yang teryakini. Menulislah dengan perbandingan rasio dan hati.
Oleh Justianus Tarigan
Tersebarluasnya puisi "Ibu Indonesia" yang dibacakan langsung oleh penciptanya, Sukmawati, membuatku memiliki sebuah ide untuk menuliskan sebuah tulisan. Tulisan yang kumaksud di sini bukan menganalisis isi puisi tersebut. Yang kumaksud adalah mengenal diri atau orang lain dari karya sendiri atau karya orang lain tersebut.
Dalam teori menulis disebutkan bahwa tulisan adalah buah pikiran penulisnya. Buah pikir ini adalah mewakili gagasan atau prinsip hidup yang dipegangnya. Sehingga penulis yang menuliskan sebuah tulisan dapat dilihat dari tulisan itu prinsip-prinsip hidup yang dipegangnya.
Penulis dengan mengedepankan kesantunan berbahasa dan memberi ide yang positif bisa diartikan bahwa penulisnya memang memiliki pandangan hidup seperti itu. Sebaliknya, penulis yang menuliskan tulisan provokasi memberi arti bahwa penulisnya memiliki jiwa provokasi. Namun, terkadang, penulis berpura-pura juga. Menulis sesuatu tetapi sebenarnya dia tidak menginginkan seperti itu. Lebih tepatnya, penulis itu membuat tulisannya aman saja.
Beragam tipe penulis inilah yang membuat saya paham bahwa setiap penulis punya prinsip-prinsip hidup yang berbeda. Yang tidak saya paham adalah mengapa ada penulis menulis suatu tulisan di luar kapasitasnya. Dia menulis seolah-olah dia paham yang ditulisnya tetapi mengatakan dia seb3narnya tidak paham. Bukankah sesuatu yang tidak diketahui tapi dibicarakan maka kemungkinan lebih banyak unsur salah daripada unsur benarnya?
Akhir kata, menulis memang baik karena menyalurkan pikiran untuk dapat dibaca oleh generasi selanjutnya. Namun jangan lupa, menulis juga punya batasan yang tak harus menyinggung suatu pemikiran orang lain. Menulislah dalam koridor yang dipahami. Menulislah dalam prinsip yang teryakini. Menulislah dengan perbandingan rasio dan hati.
Minggu, 06 November 2011
Mbages Sora Terbegi
Rembus angin si lumang bas kampus
Nandaken ciger nggo reh
Mata narik mak rapatna
"Entabeh tuhu tunduh" bage ateku.
Bagi alang la terbegi
Lit sora tempa kubegi
Mbages tempa sorana
Kai nge ndia ateku
Nde... i kuta kepe Nande ras Bapa ateku
Rembus angin si lumang bas kampus
Nandaken ciger nggo reh
Mata narik mak rapatna
"Entabeh tuhu tunduh" bage ateku.
Bagi alang la terbegi
Lit sora tempa kubegi
Mbages tempa sorana
Kai nge ndia ateku
Nde... i kuta kepe Nande ras Bapa ateku
Langganan:
Postingan (Atom)