Blogger Layouts

Halaman

Selasa, 17 Oktober 2017

Dialog Seorang Hamba dengan Angin
oleh Justianus Tarigan

kemarin kuterima kabar dari seorang sahabat lama dari desa sudut bumi
kabarnya segenap tanah dan air di sana kaya berlimpah ruah
tak tanggung pula dia mengirimkan sepotong gambar desanya yang indah sekali
tak kalah dengan gambar yang kulihat dipampang di tivi dan majalah

dari cerita sahabat ini, aku berpikir apa gerangan yang diinginkannya
bukankah keadaannya terlalu kaya?
harusnya dia tak berkekurangan

aku pun menunggu sampai habis ceritanya
tapi dia memang pandai betul bercerita
menggiringku pada asanya sesungguhnya

katanya di akhir ceritanya "Aku perlu belajar dari orang pandai untuk mengelola kekayaan desaku. Sebab kalau tidak, desaku akan tinggal sejarah setelah habis kekayaanya dikeruk pendatang."
aku tak mampu membalas pintanya sebab aku hanya angin tumpangan berhilir mudik di antara ceritanya.

 #mengenang masa pengabdian sm3t












/



Anak Angkat
Karya Justianus Tarigan

Siang tengah pada puncaknya. Sinar mentari sangat menyilaukan mata. Dedaunan juga nampaknya tepekur khidmat. Barangkali proses fotosintesis sedang berjalan sehingga mereka enggan bergerak. Angin juga sama. Tak mau berhembus. Apa mereka sengaja mempermainkan aku?
Lapar sedari tadi kurasa tak jua kuindahkan. Apalah arti lapar jika pekerjaan ini tinggal sedikit lagi. Tanggung. Nanti setelah selesai baru aku bisa makan sekenyang-kenyangnya. Tidur sampai sore juga bisa. Mandi di aliran sungai dekat kebun ini juga bisa. Atau pekerjaan apa pun itu. Pokoknya pekerjaan ini harus selesai dulu.

Tanganku semakin gesit bekerja. Parang yang kupegang dengan tangan kanan semakin cepat saja memotong semua semak yang ada. Peluh membanjiri sekujur tubuhku. Sebagian berjatuhan dari wajahku mengenai parang. Dan akhirnya pekerjaan selesai juga. Semak itu sudah terpotong dari akar-akarnya. Mungkin dua tiga hari ini mereka sudah kering. Selanjutnya, bakar.

Pada dahan pohon belimbing ada seekor burung yang tampaknya dari tadi mengintai. Apa dia memperhatikanku? Ah, itu terserah dia. Namanya juga di kebun. Ada banyak hewan dan tumbuhan. Barangkali saja dia memang punya sarang di situ. Wajar dia lama bertengger di sana.

Aku beranjak ke gubuk. Gubuk ini kuberi nama gubuk derita. Gubuk derita ini menjadi saksi cintaku. Cinta kepada seorang wanita yang sekarang jadi istriku. Gubuk ini tidak terlalu jauh dari pohon belimbing itu tadi. 

Dulu gubuk ini tempat aku dan istriku—kami—mengawali kehidupan berumah tangga. Kebun ini tidak terlalu jauh dari perkampungan. 

Awalnya setelah menikah aku dan istriku tinggal di gubuk ini. Jarang sekali tinggal di perkampungan. Walau sebenarnya ada juga rumah yang bisa kami tempati di kampung. Karena keseharianku hanyalah seorang petani dan bertaninya di kebun ini saja maka aku berembuk dengan istri untuk membangun sebuah gubuk. Ternyata dia sepakat. Katanya waktu itu, “Tidak apa-apa bang. Supaya kita merasa tinggal di villa yang luas halamannya.” Waw istriku berkhayal tinggi bukan?

Hari-hari kami lalui di kebun ini. Ketika keperluan dapur sudah habis atau ada undangan pesta baru kami pulang ke perkampungan. Untuk membuang rasa sunyi, kami pelihara ayam, bebek, dan angsa. Benar saja, suara ketiga jenis peliharaan kami ini langsung membuat bising. Aku dan istri pun tidak lagi merasa kesepian. Selain itu, ada juga radio untuk mendengarkan musik dan informasi. “Kita juga harus mengetahui informasi terbaru, bang.” Itu kata istriku. Dia tidak permasalahkan radio itu radio peninggalan kakekku. Yang penting masih bisa digunakan katanya. 

Setahun pernikahan, kami belum juga dikaruniai anak. Aku dan istri bersabar dan tetap berharap. Kami tidak saling menghakimi. Mungkin belum saatnya.

Sebulan kemudian di kampung ada pesta pernikahan. Yang menikah adalah tetangga rumah kami yang di kampung. Kami pun turut hadir pada pesta itu. Pestanya sederhana. Sama sederhananya ketika aku dan istri dipestakan. Walau demikian tidak mengurangi kesakralan ikatan suci itu.

Kakak istriku datang di pesta itu. Suaminya memang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan si empunya pesta. Dia sempat bercerita dengan istriku. Cerita punya cerita, sang kakak ternyata menyarankan kami mengadopsi anak. Katanya sebagai pancingan. Setelah diadopsi, katanya, ada kemudahan mendapatkan anak. Usulan itu pun disampaikan istriku saat makan malam sepulang dari pesta. Aku tidak buru-buru menanggapinya. Kuraba pikiran istriku lewat usulannya. Apa kami benar-benar tidak bisa memiliki anak? Apakah ini pilihan tepat?

“Kamu yakin ingin mengadopsi anak?” tanyaku pada istriku dengan mamandang wajahnya penuh cinta. Dia masih diam. Butuh beberapa detik baginya untuk berani memandangku. Kemudian dia menjawab.

“Aku hanya ingin kita segera punya anak setelah kita mengadopsi ini, bang. Lagi pula tidak ada salahnya kan?” 

“Maksudku kamu sudah pikirkan jangka panjangnya kan? Walau mengadopsi, kita harus tetap membuat dia seperti anak kita. Jangan nanti setelah ada anak kita, dia kurang perhatian. Itu berdosa, sayang.”

“Aku sudah pikirkan segala konsekuensinya, bang. Lagi pula anak yang akan kita adopsi ini juga masih dalam ikatan keluarga.”

“Kalau begitu saya sepakat saja.”

Kupandangi istriku yang masih menunduk. Dia ternyata malu setelah lama sekali kupandang. Diangkatnya wajahnya sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumannya. 

***

“Kapan Ahmad akan ujian semester, Buk?”  Aku bertanya pada istriku yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu. 

“Minggu depan, Pak. Dia kemarin telepon. Sekalian minta dikirimkan uang ujian.” 

Suara istriku terdengar berbeda. Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu. Aku belum bisa menerkanya.

“Ibu mencemaskan apa?” kucoba mengorek pikirannya.

“Tidak ada, Pak.” Dia terus melipat pakaian sekolah Bunga, anak kedua kami setelah Ahmad. Selang beberapa detik, istriku lanjut berbicara.

“Hanya sedikit bingung. Sikap Ahmad semakin hari semakin berubah, Pak. Aku tidak tahu penyebabnya.”

“Apa yang berubah, Buk. Baru Minggu kemarin dia pulang kemari. Biasa saja kutengok. Tidak ada tanda-tanda mengkhawatirkan kukira.”

“Ia, Pak. Tapi, Minggu itu juga aku bertemu dengan Eka, teman sekelasnya di sana. Katanya Ahmad sering tidak tidur di kosnya. Kadang-kadang pulang tengah malam. Pernah suatu ketika katanya, Ahmad pulang dengan banyak lelaki. Dibonceng naik motor. Belum lagi katanya PR sekolahnya pernah tidak dikerjakannya. Kalau sudah hari Minggu, Ahmad dipastikan tidak pernah di kos. Bagaimana ini, Pak. Apa ini tidak jadi pikiran?” 

Aku mengerti sekarang. Ternyata istriku begitu peduli kepada anak kami selain padaku juga. Walau Ahmad disekolahkan di ibu kota kabupaten, istriku tidak pernah lupa mengawasi gerak-gerik anaknya dengan caranya sendiri. Kurasa itu memang sangat bagus dilakukan.

Hasil pengamatan istriku tersebut kujadikan pijakan untuk mengambil langkah. Seminggu setelah itu, kususul Ahmad ke kota. Aku datang tanpa memberitahunya. Supaya tampak jelas semua akar permasalahan. Aku akan menginap di salah satu rumah kenalan di kota agar aku bisa leluasa mengumpulkan fakta lapangan. Seperti detektif bukan?

Jumat sore aku ke kota. Sabtu pagi aku secara sembunyi-sembunyi memperhatikan Ahmad apakah dia pergi ke sekolah. Ternyata Ahmad pergi ke sekolah dengan tepat waktu. Kuperhatikan cara berpakaiannya. Semuanya biasa saja. Bahkan kalau aku harus jujur, anakku ini sangat rapi dan berpenampilan menarik. Setelah Ahmad pergi ke sekolah, kudatangi pemilik kosnya. Aku mau berwawancara sedikit. Hasilnya memang mendekati dengan perkataan istriku. Aku semakin gelisah. Ditambah cuaca panas, badan pun menjadi gerah. Akhirnya setelah pamit kepada pemilik kos, aku pergi ke sebuah warung dekat kos itu. Kebetulan warung itu warung nasi, aku sekalian makan siang walau masih pukul 11.00.

Aku duduk di meja paling kiri. Kosong. Di dinding ada kipas angin mengarah ke arah mejaku. Tepat sekali mengadem sambil menikmati makanan. Di meja paling kanan ada sekelompok anak muda. Jumlahnya tidak lebih lima orang. Pakaiannya tampak sama semua. Kaos hitam bertuliskan kata-kata “I love ….” Beberapa kertas dengan sketsa model baju juga terlihat jelas olehku. Satu di antara mereka malah menunjukkan berbagai foto baju ke arah temannya melalui gadgetnya. 

Mereka tampak serius berbicara. Seperti diskusi pimpinan perusahaan saja pikirku. Tapi aku tidak mau pusing. Kulahap nasi plus ayam rendang yang sudah terhidang di hadapanku. Namun, karena jarak kami tidak terlalu jauh, aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Beberapa kali, antara terdengar jelas, mereka menyebut “Ahmad”. Aku semakin menguping. Eitss itu tidak baik. Ada berapa nama Ahmad seantero bumi ini? Hahaha.

Selesai makan aku ambil koran yang terletak dekat meja kasir. Kucari judul berita yang menarik untuk dibaca. Kebetulan ada satu berita tentang enterpreneurship. Karena hanya ini saja yang menarik kurasa maka kubaca habis tulisan tersebut. Aku akan melanjutkan pencarian data setelah Ahmad pulang. Sekali ini aku mau dia sendiri sebagai narasumbernya. Dia tidak mungkin berbohong lagi karena sudah ada dua bukti yang kuperoleh.

Ternyata begitu tulisan itu selesai kubaca, Ahmad sudah berada di muka gang rumah kos. Hendak kuikuti dia dari belakang supaya kami jumpa di kamarnya dengan bersamaan. Tapi begitu aku mau membayar harga nasi yang kumakan di kasir, kelima anak muda yang ada di meja sebelah kanan itu langsung mengejar Ahmad. Mereka tampak buru-buru. Aku semakin penasaran. Jangan-jangan mereka mau menghajar anakku pikirku. Kupercepat mengeluarkan uang dari dompet. Kuberikan uang dua puluh ribu beserta satu lembar lima ribu. Sejurus kemudian, aku langsung menyusul mereka.

Kelima anak muda itu sudah tak kelihatan lagi. Mereka sudah masuk ke kamar Ahmad. Langkahku semakin cepat. Begitu kuucapkan salam di pintu kamar, keenamnya mereka membalas salamku dengan serentak. Seketika hatiku tenang. Kulihat Ahmad telah menukar seragam sekolahnya dengan kaos hitam yang sama dengan kelima anak muda itu. Ahmad langsung mendekatiku dan mencium tanganku. Aku dikenalkan dengan kelima anak muda itu. Kelima-limanya menyalamiku dan kelima-limanya mencium tanganku. Aku belum bisa menebak apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka berseragam sama. Hingga akhirnya, satu di antara mereka menjelaskan bahwa kelima anak muda itu adalah mahasiswa. Hanya Ahmad yang siswa. Mereka berenam ternyata membuat usaha kecil-kecilan berupa sablon baju kaos. Usaha ini ternyata ide Ahmad. Kelima anak muda itu ternyata menjadikan ide Ahmad menjadi sebuah proposal program kewirausahaan di kampusnya. Alhasil diterima. Untuk itu, mereka berenam menjalankan usaha tersebut dengan biaya dari kampus. Karena Ahmad terbilang personel yang paling keren juga, dia dijadikan model kaos mereka dan disebarkan di jejaring sosial. Usaha ini baru berjalan sebulan makanya Ahmad belum memberikan informasi kepada kami, orangtuanya. Karena usaha ini pula, Ahmad sering pergi di hari minggu dan terkadang pulang agak tengah malam karena mengejar orderan pelanggan. Oleh karena usaha itu pula, Ahmad sempat lupa mengerjakan PR-nya.

***

“Pak, burung itu ternyata membuat sangkar di pohon belimbing itu. Pohon yang ditanam Ahmad.”
Istriku yang sedang menggunakan kaos usaha Ahmad, membuyarkan lamunanku. Kulirik burung yang dimaksud istriku. Memang benar. Ada sangkar burung di dahan pohon belimbing itu. 

Sore segera datang. Aku dan istri dan juga Bunga, anak kedua kami setelah Ahmad, bergegas pulang. Dalam batin aku bersyukur atas semua anugerah yang kuperoleh.
“Ternyata istriku tidak salah memberi usul beberapa tahun silam.”


Sabtu, 22 Juli 2017


Memotivasi Siswa

Sering terpikirkan cara menumbuhkan semangat belajar siswa terutama siswa di pedesaan. Ini barangkali dikarenakan penulis merasakan rendahnya motivasi belajar siswa di pedesaan. Apalagi kurangnya fasilitas sekolah. Akumulasi kurangnya fasilitas ditambah motivasi guru dan siswa yang rendah dalam pembelajaran menghasilkan output yang biasa-biasa saja.

Ketika duduk di bangku perkuliahan, tersadarkan bahwa banyak cara menumbuhkan semangat belajar itu. Atau lebih tepatnya, banyak cara menimba ilmu. Salah satunya adalah mengikuti seminar yang diselenggarakan di kampus. Seminar ini juga beraneka ragam. Ada yang skala besar dan mendatangkan pembicara terkenal dan ada pula skala kecil yang tempatnya juga tidak terlalu formal. Namun yang terpenting adalah ilmu yang diperoleh.

Beragam seminar yang pernah diikuti ini pula yang membuat penulis merasa bahwa salah satu cara mendongkrak semangat belajar siswa adalah melakukan seminar di sekolah dengan mengundang tokoh tertentu. Mungkin akan muncul pertanyaan begini "Mengundang tokoh harus punya dana kan?" Jawabannya tentu iya. Tetapi, ada juga tokoh yang dapat diungdang tanpa banyak mengeluarkan biaya. Misalnya adalah mengundang orang yang berasal dari daerah tersebut sebagai pembicara. Tentunya di sini, tokoh yang dimaksud adalah tokoh yang dianggap sukses dalam kariernya. Tidak selalu tokoh yang sukses di skala nasional atau internasional. Bagi siswa, menghadirkan seorang tokoh yang sukses dalam karier si tokoh adalah salah satu memotivasi dirinya. Atau lebih dekat adalah mengundang mahasiswa yang berasal dari daerah tersebut ke sekolah. Ini semua tentunya akan memotivasi siswa. Bukankah yang ingin ditanamkan kepada siswa salah satunya adalah bermimpi sukses dan mewujudkannya?

Sering sekali penulis memperhatikan sebenarnya banyak tokoh yang dianggap layak memberi motivasi kepada siswa yang berasal dari daerah lingkungan sekolah tersebut bahkan adalah alumni. Tetapi keengganan pihak sekolah atau kekurangtahuan sekolah dalam memanfaatkan hal ini sehingga rasanya terabaikan begitu saja.

Penulis hanya berpikir bahwa siswa di sekolah kalau hanya mendengar informasi dari guru lama-kelamaan timbul rasa jenuh. Untuk mengantisipasi kejenuhan inilah sehingga sekali-sekali harus ada seminar yang mendatangkan tokoh yang dianggap layak.

Akhir kata disampaikan bahwa banyak cara membuat siswa termotivasi belajar. Pihak sekolahlah yang harus berpikir kreatif dalam memanfaatkan hal-hal yang bisa dijadikan sumber belajar bagi siswa selain guru. Kalau ada orang yang berasal dari lingkungan terdekat yang sudah sukses boleh diundang untuk memotivasi semangat belajar siswa. Sehingga siswa yang sekolah di desa tetap memiliki cara berpikir mendunia.

22072017AUJD

Jumat, 21 Juli 2017

PPL PPG PASCASM3T


Guru Biasa 

Jika kau tanya masalah perpolitikan mungkin aku tak tahu banyak sebab profesiku hanyalah guru biasa. Mengabdikan ilmu yang setidaknya bekalmu untuk mampu berdiri merumuskan jalannya negeri ini.

Jika kau tanya cara membedah tubuh manusia untuk menghilangkan parasit yang tumbuh di dalamnya maka aku pasti tidak tahu jua sebab aku hanyalah guru biasa. Tapi kupercaya mendidikmu dengan kesabaran dan ilmu seadanya ini akan mengantarkanmu menjadi dokter yang ahli.

Begitulah aku guru biasa. Tak mampu banyak menjawab tanyamu yang luar biasa. Sebab kuakui engkau akan besar dengan didikan banyak guru.

Aku hanya mengawali. Namun tak bisa melangkahi. Biarlah tanyamu simpan saja di kemudian hari untuk gurumu yang nanti-nanti.

Aku pasti sudah berseri saat melihatmu penuh takjub mengukir prestasi untuk kebaikan di kemudian hari sebab aku adalah guru biasa.

21-7-2017_asramaundikshaJD

Kamis, 20 Juli 2017

Guru Masa Depan

Persoalan pendidikan tidak akan pernah ada matinya untuk dibicarakan. Selama manusia masih hidup di permukaan bumi ini dan selama manusia masih ingin melakukan kelangsungan hidup maka selama itu pendidikan akan tetap diperbincangkan. Kira-kira begitulah untuk memandang bahwa pendidikan itu sangat erat hubungannya dengan manusia.

Dalam dunia pendidikan, pendidik dan peserta didik adalah dua komponen yang wajib ada. Ketidakhadiran salah satu komponen ini akan menyebabkan proses pendidikan tidak berjalan lancar. Oleh sebab itu dibutuhkan pula sebuah wadah yang memanajemen secara keseluruhan agar proses pendidikan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik terlaksana dengan baik.

Pendidik dalam artian yang sangat luas adalah orang yang mampu memberikan pendidikan kepada peserta didik. Untuk itu, pendidik tidak hanya guru yang mengajar di sekolah. Orangtua dan masyarakat luas yang mampu memberikan pendidikan layak dianggap pendidik. Atau jika lebih dispesifikkan bahwa orangtua adalah pendidik yang paling utama karena kehadirannya yang lebih dekat dengan anak/peserta didik. Siapa pula di dunia ini yang lahir tanpa orangtua?

Jika dispesifikkan lagi pada dunia sekolah formal, pendidik adalah orang yang sering dipanggil guru. Mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki kecakapan dengan ilmu pendidikan untuk mengemban tugas mulia yakni mencerdaskan siswa sesuai ketentuan yang diatur dalam peraturan yang berlaku.

Siapakah guru masa depan itu?
Melihat penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa guru masa depan itu bukanlah orang yang harus turun dari planet lain. Guru masa depan Indonesia itu adalah orang-orang yang telah menempuh pendidikan sebagaimana peraturan yang berlaku dan memiliki kapasitas yang mumpuni serta memiliki keterpanggilan jiwa untuk mendidik anak-anak Indonesia.

Guru masa depan Indonesia adalah orang-orang yang penuh cinta mengabdikan ilmunya kepada siswa-siswa Indonesia.

Belakangan dilihat di berbagai media bahwa setiap ada masalah yang menyangkut siswa, yang menjadi sorotan adalah sekolah dan guru. Sehingga terkesan bahwa guru memegang tanggung jawab sepenuhnya masalah pendidikan. Gurulah yang harus bertanggung jawab atas semua masalah yang ditimbulkan siswa. Padahal siswa adalah manusia yang dapat dipengaruhi oleh siapa saja dan dapat diawasi oleh bukan guru saja. Faktor lingkungan, teman, keluarga bahkan media adalah hal yang tak bisa diabaikan begitu saja. Mereka juga sebenarnya berpeluang memberikan tanggung jawab dalam hal ini. Coba lihat saja media yang mempertontonkan sinema elektronik berbau kekerasan. Apakah ini cocok untuk siswa? Belum lagi ditambah lingkungan, teman, dan keluarga yang kurang mendukung tumbuhkembangnya karakter anak. Dan lagi-lagi haruskah setiap masalah yang dilakukan siswa menjadi tanggung jawab sekolah dan guru? Inilah yang perlu direnungkan.

Siswa atau peserta didik membutuhkan banyak perhatian dari berbagai elemen. Bukan hanya guru di sekolah. Inilah yang harus disikapi oleh setiap orang. Yang menjadi orangtua berarti harus memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap pendidikan dan karakter anaknya. Yang belum menjadi orangtua juga wajib mencerminkan sikap bijaknya menjadi orang dewasa. Penguasa media juga bukan hanya memproduksi hiburan tanpa memperhatikan konten edukasinya. Harus lebih selektif dalam memberikan sinema. Serta para pemangku kebijakan juga memberikan perhatian yang besar terhadap terhadap pendidikan di negeri ini. Pada akhirnya akan terlahir generasi yang benar-benar generasi emas Indonesia.

21-7-2017

Rabu, 24 Mei 2017

Mengawali PPG di Undiksha

Mengarang
karya Justianus Tarigan

Ingin kudeskripsikan tentangmu lewat narasi
Namun otak, lisan, dan tanganku kelu
Sebab terlalu banyak yang mampu kueksposisikan
Belum lagi setiap jengkal tentangmu
Selalu dibayangi argumentasi tersendiri
Biarpun begitu
Nasihat pamungkasmu kemarin
tetap mempersuasiku

Kampus FBS Undiksha 15 Maret 2017 


Pelajar
karya Justianus Tarigan

Aku pelajar
Mengeja hari pergi berguru
Menguliti buku mencari isi
demi hidup bijaksana dan mandiri
Kugenggam pensil untuk menulis masa depan
Kuambil kertas menjadi kanvas gambar hidup yang akan datang
Kupegang penghapus untuk menghilangkan noda karakter buruk diri
 
 Sela-sela Peerteaching Siklus II FBS Undiksha, 15 Maret 2017


Menulis Sejarah
karya Justianus Tarigan

Telah kutulis segemuk mungkin
kisah hidupku
Pada tebalnya buku diari
untuk mengukirkan tingginya asa dan rintangan hidup yang kujalani
Bukan bermaksud membesarkan makna diri
Hanya untuk mewariskan sejarah perjuangan kehidupan yang kupunya
buat anak cucu yang akan datang
Supaya mereka tahu perlunya rendah hati

Singarajar, 15 Maret 2017

 

Merah Putih
karya Justianus Tarigan

Aku Merah
menyala tak pernah padam
melahap segenap tanya tentang ilmu

Aku Putih
berseri terpancar dari sanubari
menyinari gelap menjadi terang

Aku Merah
yang marah pada bodoh

Aku Putih
yang cinta pada faedah

Asrama Undiksha Jinengdalem, 19 Maret 2017



Ikrar
karya Justianus Tarigan


Telah kuikrarkan
Janji setia padaMu ya Rabbi
Lewat dialog sebelum lahirku di bumi ini
Aku bersyahadat Engkaulah Tuhanku
dan Muhammad sebagai rasulMu 
Menjalankan sholat untuk bisa kita bertemu
Saat bulan Kesucian tiba,
Kan kutunaikan puasaku padaMu
Sekaligus zakat fitrah demi kesucianku
Dan saat rejekiMu cukup padaku
Tanah suci yang penuh damai kan kudatangi
sebagai penyempurna Islamku padaMu
Ya Rabbi
Maka kuatkanlah hatiku berpaut padaMu
lewat kitab, sunnah, dan semua keagunganMu 

Seusai Shubuh di Asrama Undiksha Jinengdalem, 20 Maret 2017 

 
 
Langkahku
karya Justianus Tarigan

Sudah kudengar panggilanmu
Sedih sendu mendayu
Hati berempati tapi apalah dayaku
Kucari jalan bertanya pada alam dan sumber cahaya
agar kukumpulkan cara menyelesaikan setiap soal yang mendera

Langkahku hampir pasti
Melerai duka yang telah lama
Menjalankan seperangkat rencana
Namun langkah terhenti karena mereka tak percaya
Dimana arah yang hendak kutuju
Jika ini tak kan bekerja
Saat jalan lain terbuka
dan cocok rencana
Jangan salahkan aku pindah arah

Kampus FBS Undiksha, 30 Maret 2017

Selasa, 18 Oktober 2016

Skenario Film Pendek



REHULINA
Karya Justianus Tarigan

Deskripsi watak tokoh
Rehulina  : cerdas, setia, bijak
Pak Abdi  : mudah tersinggung,terperamen
Ely       : periang, setia
Amel      : suka pamer, agak sombong

Pagi hari di kelas XII IPA 1. Siswa-siswa sudah ramai di kelas. Tiga sekawan memperbincangkan kelanjutan studinya.
Amel      : “Oya, teman-teman. Kemana kemarin kalian pilih ngelanjutnya?”
Rehulina  : “Entahlah.” (nada lemas sambil membaca bukunya)
Ely       : “Aku ke Yogya.” (penuh semangat dan ceria)
Amel      : “Oya? Sama dong. Ayahku bilang aku pasti diterima di kampus favoritku itu. Teman dekat ayahku sekarang jadi wakil rektor satunya loh.”
Ely       : “Rekom aku juga donk. Biar bisa sama kita di sana.”
Amel      : “Ye. Emang situ punya kenalan.” (bicara agak sinis)
Ely       : (tidak mempedulikan ucapan Amel)”Eh, Lin. Kok diam saja. Kamu milih dimana?”
Rehulina  : “Aku udah tahu mau kemana. Masalahnya, aku kan gak seperti kalian berdua. Kalian tahulah maksudku.”
Ely       : “Kamu kan udah bilang mau coba bidikmisi. Usahalah Lina sayang. Sayang ilmu dan bakatmu itu gak sampai dikuliahin.” (mengarahkan wajah Lina menghadap wajahnya)
Rehulina  : (tersenyum kecil)
Amel      : “Kalau tidak sanggup ke Jawa, di Medan aja Lin. Pokoknya kan kuliah. Di kampus yang tidak terkenal juga boleh kok. Asalkan ada beasiswanya.”
Ely       : “Hus! Amel. (jari telunjuk Ely didekatkannya ke bibirnya tanda menyuruh Amel berhenti bicara.
Rehulina  : (pura-pura tidak mendengar dan membaca buku)
Ely       : “Maaf ya Lin. Aku tidak serius yang tadi.”
Lina      : (berdiri dan melihat Ely dan Amel) “Aku tidak apa-apa kok. Serius. Wajahku tidak memancarkan kalau aku sedang marah kan?”
Emel      : “Jadi apa rencanamu Lin?”
Rehulina  : (menarik napas)”Aku tidak berencana ke Jawa. Aku akan bangga jika diterima di universitas ibukota provinsi ini. Kampusnya juga tidak kalah saing kok dengan yang di Jawa. Yang aku perlukan saat ini adalah doa kedua temanku yang tiap hari mau menemaniku ini. Ada yang mau mendoakanku?” (Lina membuka lebar tangannya seperti hendak terbang)
Ely       : “Lina” (Ely langsung terjun ke pelukan sahabatnya dengan suara menahan sedihnya)
Amel      : “Aku juga ikut.”

Mereka berpelukan.
Bel berbunyi. Pelajaran pertama akan segera dimulai. Pelajaran di kelas XII IPA 1 adalah bahasa Indonesia. Gurunya adalah Pak Abdi, kepala sekolah. Hanya di kelas ini saja Pak Abdi mengajar. Kelas XII IPA 1 ini adalah kelas paling dekat ke kantor kepala sekolah di antara semua kelas yang ada di sekolah ini.
Pak Abdi  : “Selamat pagi anak Bapak.”
Siswa     : “Selamat pagi Pak.”
Pak Abdi  : “Apa kabar kalian pagi ini?”
Siswa     : “Sehat Pak.”
Tiba-tiba nada dering telepon genggam Pak Abdi berbunyi.
Pak Abdi  :”Sebentar ya.”
Pak Abdi mengangkat panggilan telepon tersebut. Dia berbicara sambil berjalan ke arah kantornya. Kebiasaan buruk kepala sekolah ini tidak bisa bertelepon dengan suara kecil. Selalu terdengar ke mana-mana. Kepala sekolah sudah mendekati kantornya tapi suaranya bercakap masih terdengar oleh siswa
Rehulina  : “Permisi sebentar Pak Ketua”. (Lina melihat ke arah ketua kelas)
Ketua Kelas   : “Jangan lama. Bapak itu tiba-tiba masuk dan dilihatnya ada yang keluar, bisa marah dia.”
Rehulina      : “Siap ketua.” (tersenyum)
Lina mau ke kamar mandi. Dia berjalan melewati lorong kelasnya dan harus melewati kantor kepala sekolah. langkahnya dibuatnya pelan agar tidak ketahuan kepala sekolah. Mendekati kantor kepala sekolah, suara kepala sekolah sudah terdengar jelas oleh Lina. Beberapa kali Lina mendengar nama camat disebutnya. Semakin Lina mendekati pintu kantor kepala sekolah itu, semakin dengar pula ia bahwa kepala sekolah sedang membicarakan temannya, Amel. Karena kepala sekolah itu terus bercakap dengan suara kuat, Lina dapat mendengar semua pembicaraan itu. Intinya, kepala sekolah diminta melakukan cuci rapor Amel agar bisa kuliah di jurusan yang diinginkanya di Jawa. Kepala sekolah tampaknya menyetujui dengan perkataan “bisa diatur”. Lina geram mendengarkannya. Dia langsung bergegas pergi menuju tempat yang seharusnya didatanginya.
Pak abdi  : “Anak bapak sekalian materi kita pagi ini adalah”(terdengar bunyi ketukan pintu)
Pak Abdi  : “Darimana kamu?”
Lina      : “Maaf Pak. Saya tadi izin kepada ketua kelas untuk ke kamar mandi.
Pak Abdi  : “Baru bel kok permisi. Makanya buang dulu yang mau dibuang sebelum pelajaran dimulai. Mengganggu saja. Silakan duduk!”
Rehulina  : (diam dan berjalan ke tempat duduknya)
Pak Abdi  : “Baiklah anak Bapak. Materi kita hari ini adalah mengidentifikasi ciri dan tema puisi kontemporer. Seperti…”
(telepon genggam Pak Abdi berbunyi)
Pak Abdi  : “Baru mau menerangkan, sudah ditelepon lagi.” (berbicara sendiri seperti mendumel).”Anak Bapak silakan dibaca dulu buku paketnya mengenai materi ini ya. Sebentar saya angkat dulu telepon pak kadis ini.”
Pak Abdi  : “Hallo Pak Kadis. Selamat pagi…”
Pak Abdi menjauhi kelas sambil bercakap-cakap dengan pak kadis. Suaranya semakin mengecil karena semakin menjauhi ruang belajar. Hingga les pembelajaran bahasa Indonesia habis, Pak Abdi tidak kembali lagi ke kelas. Ternyata dia langsung pergi setelah Pak Kadis menelepon).
Ely       :“Lin, datamu kemarin sudah kamu serahkan kepada kami kan?”
Rehulina  :“Sudah Ely. Kan Kamu dan Amel yang kemarin yang mengantarkannya ke kantor.”
Ely       :“Aku hanya memastikan. Kami kan hanya pengumpul. Mana kami perhatikan semua data itu.”
Rehulina  :”Sudah loh Ely. Tenang saja.”
Ely       :”Bukannya besok kita sudah bisa meminta print out pendaftaran itu?”
Rehulina  :”oya? Kalau begitu, besok kita jumpai saja bapak itu. Bagaimana?
Amel      : (Amel datang ke bangku Lina dan ely) “Eeee… ada apa ini? Senang sekali. Pasti ada kabar baik.
Lina      :“Kamu mau tahu kan? Besok kita jemput kabar baik itu bersama-sama. Ok.”
Amel      :”Tapi apa?” (suara merengek)
Ely       :”Ihhh. Besok bakal tahu.”

Keesokan harinya. Bel les pertama pelajaran berbunyi. Hari ini adalah pertemuan kedua bahasa Indonesia di kelas XII IPA 1. Pak Abdi belum tampak datang. Tapi siswa telah di kelas menunggu gurunya.
Ely       :”Apa itu Lin? Kok tulisannya seperti puisi. Boleh aku baca?”
Rehulina  :”Jangan. Ini terlalu kontemporer untuk kamu baca.”
Ely       :”Gayamu itu loh. Sok paham tulisan kontemporer. Belajar materi itu saja belum.”
Rehulina  :”Nanti kuperlihatkan.”
Tiba-tiba Pak Abdi datang.
Pak Abdi  :”Selamat pagi anak Bapak.”
Siswa     :”Selamat pagi Pak.” (serempak)
Pak       :”Baik. Kita lanjutkan materi sebelumnya mengenai puisi kontemporer. Kemarin Bapak sudah menyuruh kalian berdiskusi mengenai materi ini. Ya, kalaupun saya tidak ada di kelas, saya harap ada laporan mengenai hasil diskusi yang kalian lakukan. Apa hasil diskusi kalian?” (menunjuk ke arah Ely)
Ely       :”Ada pak. Tapi kami bingung kemarin membahasnya.”
Pak Abdi  :”Iya. Apa yang dibingungkan? Jangan-jangan tidak ada yang kalian diskusikan. Mana buktinya?”
Ely       :”Mana puisi kamu kemarin Lin. Supaya Bapak percaya.” (Ely tampak ketakutan)
Rehulina  :”Ini hasil diskusi kami Pak.” (menyerahkan secarik kertas HVS yang ditulisi penuh).
Pak Abdi  :”Ya. Tampaknya ada sebuah puisi. Coba kamu bacakan di depan. Dari puisi kalian ini nanti kita akan membahas puisi kontemporer.”
Lina      : (maju ke depan kelas dan bersiap membacakan puisinya). “Terkutuk buah pena Rehulina Tarigan. Te e er ka u te u ka. Terkutuk. Terkutuklah. Para pencuri duit rakyat. Para pemalsu dokumen negara sampai para penabur ilmu bermuka dua.” (suara Lina terdengar lantang)
Pak Abdi  : “Stop. Puisi apa itu?”
Lina      : (kebingungan melihat reaksi gurunya karena disuruh tiba-tiba berhenti). “Tapi Bapak menyuruh saya membacakannya. Inilah yang kami pahami mengenai puisi kontemporer Pak.”
Pak Abdi  :“kalaulah saya ingin tahu. Apalah maksud puisimu itu?”
Rehulina  :”Saya belakangan ini sering menonton berita mengenai kasus korupsi yang ditangai KPK, Pak. Dari berbagai kasus itu membuat saya ingin menulis sebuah puisi yang bentuknya seperti ini.
Pak Abdi  : “Oya? Terus yang kamu maksud dengan para penabur ilmu bermuka dua. Itu apa?”
Lina      : (teringat dengan percakapan Pak Abdi lewat telepon kemarin tentang cuci rapor). “E… yang itu juga ada pengaruhnya dari tontonan saya Pak yang memberitakan ada oknum di bidang pendidikan yang melakukan korupsi atau pemalsuan data akademik. Saya hanya tidak habis pikir, seorang pendidik, di sekolah atau di kampus, tega melakukan kecurangan. Padahal, mereka setiap hari mengajarkan tentang ilmu pengetahuan sekaligus moral kepada peserta didiknya.
Pak Abdi  :(terdiam dan wajahnya tampak gusar)
           ”Saya pikir puisi kamu itu tidak mencerminkan nilai estetika. Perlu diperbaiki.”
Rehulina  :“Pak”
Pak Abdi  :(diam)
Lina      :”Pak”
Pak Abdi  :”Ada apa?”
Lina      :”Inilah yang kami bingungkan Pak. Bukankah puisi itu buah karya pengarangnya? Dia berhak membuat semau dia untuk mengungkapkan pikirannya?”
Pak Abdi  : “Pokoknya saya tidak suka puisi kamu itu.” (suara kepsek tiba-tiba terdengar lantang). “Jangan beradu teori dengan saya mengenai puisi. Saya lebih lama mempelajarinya daripada kamu.
Pak Abdi  :”Silakan dikerjakan pelatihan yang ada di buku paket itu. Ketua kelas tolong kumpulkan setelah selesai. Saya ada pekerjaan lagi mendadak.”
Pergi meninggalkan ruang belajar. Siswa tampak kebingungan. Mereka tidak mengetahui apa penyebabnya Pak Abdi tiba-tiba marah.

Di kantor operator sekolah
Pak Abdi  :“Mul”
Pak Mulia :”Saya Pak.”
Pak Abdi  :”Bagaimana mengenai pendaftaran SNMPTN siswa  itu, sudah selesai?”
Pak Mulia :”Sudah Pak.”
Pak Abdi  :”Rehulina Tarigan itu batalkan saja.”
Pak Mulia :”Tapi kenapa Pak? Bukankah dia siswa terbaik kita?”
Pak Abdi  :”Tidak perlu kamu bantah perintah saya. Batalkan saja”
Pak Mulia :”Iya Pak.” (suara lemas)

Bel istirahat berbunyi
Ely       :”Selamat pagi Pak.”
Pak Mulia :”Sudah siang Ely.”
(Lina dan Amel tertawa)
Pak Mulia :”Kalian pasti ingin mengambil print out pendaftaran SNMPTN itu kan?”
Amel      :”Jelaslah Pak. Kami ingin lihat.”
Pak Mulia :”Ini untuk kelas kalian. Kalian bagikan kepada teman sekelas ya. Tapi membagikannya di kelas saja.”
(Ely dan Amel tampak berebut membawa map yang diberikan Pak Mulia)
Lina      :”Terima kasih ya Pak. Permisi”
Pak Mulia :”Iya.” (dalam hati Pak Mulia “Maafkan bapak lina, kamu harus kecewa kali ini”)

Di kelas
Ely       :”Lin, kertas kamu kok tidak ada.”
Amel      :”Iya Lin.”
Rehulina  :”Tidak mungkin. Aku kemarin kan mendaftar. Coba kalian cek sekali lagi.”
Ely       :”Semua sudah kami bagikan. Tinggal tiga. Ini si  Bina, si Abel, si Juni. Terus kertasmu mana?
Lina      :”Jangan banyak bercanda Ely. Aku udah deg-degan ini.”
Amel      :”Ini betulan loh.”
Lina      : (Menarik ketiga kertas yang ada di tangan Ely. Dibacanya satu per satu. Ternyata benar. Kertas miliknya tidak ada. Lina terdiam.)
Ely       :”Sebentar ya aku tanya langsung sama Pak Mulia.”    (pergi meninggalkan Lina dan Amel)
Amel      :”Tenang Lina.” (tersenyum memandangi kertasnya)
Ely       :”Lin, kamu harus jumpai bapak itu besok. Dia sudah pulang.”
Lina      : (diam dan menganggukkan kepala)

Di rumah
Ibu       :”Lina ada apa Nak? Dari pulang sekolah kok murung terus.”
Lina      :”Lina tidak terdaftar Buk. Lina tidak bisa ikut jalur SNMPTN. (lina menangis di pelukan ibunya)
Ibu       :”Tenang dulu. Jangan putus asa begitu. Kan masih bisa tanya kepada kepala sekolah.”
Lina      : (masih menangis)
Ibu       :”Udah ah. Bagaimana kita bisa cari solusi kalau kamu tidak berpikir jernih Lina?”
(lina melepaskan pelukannya. Dia duduk di dekat ibunya)
Ibu       :”Kamu pasti ada buat salah kepada kepala sekolah. Kamu tahu kan kepsekmu itu mudah tersinggung? Kamu pasti ingat dengan kejadian di kelas satu dulu saat ibu menuntut uang beasiswamu yang seharusnya sudah cair tapi malah didiamkan pihak sekolah. Eh, semester depannya kamu tidak dapat lagi.”(ibu mengelus rambut putrinya).
          “Lina anakku, banyak cara yang dapat ditempuh untuk mencapai keinginan. Pilihlah cara yang baik untuk ke sana. Kamu harus tahu arti namamu itu. Ibu memang tidak pernah cerita soal sejarah nama kamu itu. yang pasti, ayahmulah yang memberikan langsung nama itu. Kamu tahu filosofi namamu itu? Reh dalam bahasa Karo artinya datang. Ulina artinya kebaikan. Jadi, Rehulina artinya semoga yang akan datang menjadi lebih baik. Harapan Ayahmu, kamulah yang memberikan kebaikan pada keluarga kita. Atau secara luasnya, kamu harus membawa kebaikan kepada setiap orang yang kamu datangi. (ibu diam sesaat)
          “Sudah. Jangan sedih lagi. Istirahatlah. Besok jumpai kepala sekolah dengan baik.”

Keesokan harinya di ruang kepala sekolah.
Pak Abdi  : “Apa ini?” (Pak Abdi membuka amplop dan membaca isi surat itu)
Yth. Bapak Kepala Sekolah

            Maafkan saya yang telah lancang meletakkan sebuah surat di meja Bapak. Saya tidak bermaksud untuk melakukan tindakan negarif. Saya hanya ingin meluruskan pandangan Bapak terhadap saya atas isi puisi kemarin.
            Bapak, pertama kali Bapak mengajar di kelas kami, saya betul-betul terpukau dengan keluasan wawasan Bapak. Saya melihat bahwa Bapak memang memiliki ilmu mumpuni untuk mendidik sekaligus membangun sekolah kita ini. Setiap kali Bapak masuk di kelas, saya selalu mendapatkan satu inspirasi dari kata-kata dan penjelasan Bapak. Saya mengagumi itu.
            Tapi, entah mengapa Bapak, saat saya kemarin permisi ingin ke kamar mandi dan tanpa sengaja saya mendengar pembicaraan Bapak mengenai suatu rencana yang tidak baik, Rasanya luntur semua kebaikan yang kuagungkan tentang Bapak. Rasa kagumku sirna seketika.
            Saya bohong Pak mengenai maksud puisi itu. Bapak ternyata tahu maksud saya atas puisi itu. Saya hanya ingin sampaikan secara tidak langsung agar Bapak yang saya kagumi tidak melakukan kejahatan seperti itu. Saya tidak pikir panjang akibatnya. Maafkan atas kelancangan saya Pak.
            Pak, saya sangat tahu diri. Atas segala keadaan ekonomi dan status sosial saya. Hanya sedikit prestasi yang bisa kubanggakan. Itu pun atas bimbingan dan nasihat Bapak. Rasanya tidak ada yang pantas kubandingkan dengan Bapak.
            Bapak yang selau kudengarkan nasihatnya, adalah Bapak yang setiap kali masuk di kelas kami dengan sejuta pemikiran sekaligus motivator dalam hidup saya. Bapak, langkah saya akan terhenti sampai di sini jika restu Bapak tidak meridhoi saya melanjutkan studi itu.
Siswa yang selalu mengagumi Bapak,

Rehulina Tarigan
Pak Abdi  terdiam sesaat. Kemudian diraihnya telepon genggamnya yang terletak di atas meja. Nomor Pak Mulia adalah tujuannya.
Pak Abdi  :”Mulia, tolong daftarkan kembali Rehulina itu. satu lagi, batalkan cuci rapor itu.”
Mulia     :”Iiiiya Pak.” (agak kaget)
Pak Abdi  :”Terima kasih nak. Kau telah mengingatkan Bapak. Semoga dengan keluhuruan budimu, engkau menjadi orang yang bermanfaat kelak.”

Selesai