Blogger Layouts

Halaman

Sabtu, 08 Desember 2018

Menyoal Sertifikat Pendidik pada Tes CPNS 2018

Beberapa instansi telah mengumumkan hasil seleksi kemampuan dasar (SKD) tes CPNS tahun 2018. Dari begitu banyaknya formasi, formasi guru adalah salah satu yang paling banyak. Untuk itu, pelamar untuk formasi ini juga terbilang paling membludak.

Dikeluarkannya pengumuman hasil SKD beriringan dengan informasi untuk seleksi kemampuan bidang (SKB). Yang menarik pada informasi ini adalah pelamar yang memiliki sertifikat pendidik akan mendapat nilai maksimal (100,000) pada SKB. Tentu ada syarat tambahan yang harus dipenuhi oleh pemilik sertifikat pendidik, yaitu kevalidan sertifikat tersebut dan linieritas dengan formasi yang diambil. Untuk masalah valid dan linear ini, panitia dari instansi yang dilamarlah yang mengeceknya. Walau demikian, informasi ini bisa dikatakan sebagai angin segar bagi pemilik sertifikat pendidik. Dengan kata lain, yang melaju ke babak SKB dan telah mempunyai “surat keramat” ini bisa dikatakan lebih santai dibandingkan mengikuti SKD sebelumnya.

Tentunya kita sedikit berpikir mengenai alasan para pembuat kebijakan “mengistimewakan” para pemilik sertifikat pendidik ini. Pemerintah merujuk pada UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang pada pasal 8 disebutkan bahwa guru itu wajib memiliki sertifikat pendidik. Untuk itu, pengumuman itu merupakan suatu penegasan oleh pemerintah bahwa pemerintah tidak main-main lagi dalam hal pendidikan di negeri ini. Harus punya standar. Salah satunya adalah guru wajib bersertifikat pendidik.
Oleh karena itu sangat disayangkan bahwa banyak oknum yang “berkicau sumbang” mengartikan dengan dikeluarkannya pengumuman tentang sertifikat pendidik ini pada tes CPNS 2018 formasi guru telah mencederai persaingan sehat. Perlu diperjelas bahwa tidak ada yang tidak sehat dalam hal ini.

Barangkali kita perlu sedikit melirik sumber sertifikat pendidik itu bisa berada di tangan guru tertentu. Dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Menpan RB tertanggal 30 November 2018 disebutkan bahwa sertifikat pendidik itu dikeluarkan oleh tiga lembaga, yakni Kemendikbud, Kemenristekdikti, dan Kemenag. Saya tidak akan membahas semuanya di sini. Yang saya bahas adalah sertifikat pendidik yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti. Saya berani membahas bagian ini karena saya mendapatkan sertifikat pendidik dari sini.

Sertifikat pendidik yang dikeluarkan Kemenristek dikti salah satunya adalah untuk alumni pendidikan profesi guru sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal atau disingkat PPG SM3T. Orang-orang yang menjadi alumni program ini terbilang orang-orang yang luar biasa. Luar biasanya adalah proses seleksi SM3T sangat ketat sampai wajib mengikuti pengabdian selama setahun di daerah 3T di tanah air ini. Untuk menggambarkan keadaan di daerah 3T ini tidak usah jauh-jauh. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang. Cukup cari saja di internet kita bisa menemukan begitu banyak kisah yang tergambar mengenai daerah 3T. listrik yang belum 24 jam, jalan yang tidak ada, jaringan telekomunikasi yang tidak ada, dan lain-lain. Belum lagi masalah pendidikan yang sangat memprihatinkan. Itu semua dijalani oleh peserta SM3T ini dengan keikhlasan. Tidak ada kata mengeluh. Bahkan, beberapa alumni yang meninggal dunia saat melakukan pengabdiannya di daerah 3T ini. Apakah semangat peserta SM3T ini kendor setelah mendengar kabar itu? Tidak. Tidak sama sekali.

Memang benar bahwa peserta SM3T menerima biaya hidup selama pengabdian. Hal itu sebenarnya sangat wajar karena pengabdian yang tidak diimbangi pemeliharaan kesehatan oleh si pengabdi maka pengabdiannya tidak akan berjalan lancar.

Selesai melakukan pengabdian setahun di daerah 3T, peserta SM3T kembali ke daerah asalnya. Memang tidak akan bisa tergambarkan dengan tepat perasaan yang terjadi kala perpisahan itu. Semua anak didik itu merasa kehilangan. Orangtua dan guru-guru yang ada di sana juga merasakan hal sama. Peserta SM3T juga sama. Apa boleh buat. Masa pengabdian telah berakhir. Pintu program profesi guru telah menanti.

PPG dilakukan di kampus yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Peserta PPG memang diberikan beasiswa untuk pendidikan ini. Walau diberi beasiswa, peserta PPG SM3T ini tidak seenaknya saja mengikuti pendidikan. Aturan asrama telah menanti dan itu dinilai. Aturan workshop juga ada. Yang ini sering membuat kepala pusing. Praktik di sekolah mitra juga bukan main-main. Bahkan, peserta PPG SM3T ini mengemban amanah yang besar. Wajib menunjukkan ciri guru professional dalam hal empat kompetensinya. Yang paling berat adalah penilaian di ujung pendidikan ini. Uji pengetahuan namanya. Sebelumnya bernama ujian tulis nasional. Ujian ini bisa membuat peserta PPG SM3T tidak diwisuda kalau tidak lulus walaupun sudah lulus semua penilaian lainnya. Ujian ini pula yang membuat peserta PPG SM3T itu wajib belajar membahas empat kompetensi guru sekaligus dengan sempurna. Pernahkan Anda mendengar peserta PPG SM3T pulang dari kampusnya karena telah selesai masa studi tapi tidak membawa pulang sertifikat pendidik? Jawabannya sebenarnya banyak. Tapi apakah peserta PPG SM3T lakukan? Dia ujian lagi di masa selanjutnya. Sampai benar-benar lulus.

Nah, begitulah sekelumit cerita perjuangan guru yang bersertifikat pendidik itu memperoleh “kertas ajaib” itu. Orang-orang mungkin tak pernah tahu perjuangan orang lain sebelumnya sehingga dia asal berbicara seenaknya. Setiap orang memang memiliki cara dalam memberikan pelayanan untuk negeri ini walau terkadang tidak terlihat oleh umum. Walau demikian, mari sedikit bijaksana dalam memberi pendapat sehingga tidak melukai perasaan orang lain.

Guru yang memiliki sertifikat pendidik karena pernah PPG dan pernah SM3T,
Justianus Tarigan, S.Pd., Gr.

Selasa, 15 Mei 2018

Artikel

Jangan Terjebak dalam Emosi
Oleh Justianus Tarigan

Kasus pengeboman yang terjadi baru-baru ini di Surabaya adalah tindakan amoral yang dilakukan oleh oknum yang sengaja ingin memecah belah Indonesia. Bom bunuh diri yang dialamatkan ke rumah ibadah atau di mana pun sungguh perbuatan yang terkutuk. Tak ada ajaran agama yang menganjurkan demikian. Kasus ini sangat diharapkan segera dituntaskan oleh pihak kepolisian.

Masalah yang sedang trending topik di atas merebak luas di dunia maya, katakan di media sosial. Namanya juga dunia medsos, terkadang kita tersulut emosi karena mendengar adanya sebuah musibah menerpa saudara kita. Belum lagi tulisan-tulisan yang dibuat oleh beberapa orang yang terkesan memojokkan orang lain sebagai biang masalah. Kita seolah-olah tersugesti dengan tulisan-tulisan itu sehingga emosi kita juga terpancing. Tersulutnya emosi akhirnya kita tidak berpikir rasional. Ketidakrasionalan inilah kadang yang membuat kita menuliskan kembali sebuah tulisan yang isinya bernada negatif yang pada ujungnya memperkeruh masalah yang sedang terjadi. Awalnya kita  berduka karena peristiwa yang sangat memilukan diderita saudara kita selanjutnya kita terjebak oleh emosi sendiri dan memublikasikan tulisan yang bernada negatif. Kalau sudah begini, masalah yang timbul bisa lebih banyak. Padahal masalah awal pun belum selesai.

Kalau kita sedikit analisis, masalah yang sedang terjadi ini bukan sekadar menyasar korban tetapi menyasar kepentingan kerukunan hidup bersama. Alangkah senangnya mereka, orang-orang di balik kasus ini, yang menginginkan kita, Indonesia, berpecah belah. Jika kita tersulut emosi karena melihat pemberitaan di media maka artikanlah bahwa kita, semuanya orang Indonesia, emosi kepada oknum pembuat kasus amoral ini. Kita marah dan geram kepada pelakunya bukan pada embel-embel yang melekat pada diri pelaku, apakah daerahnya, sukunya, atau agamanya. Selain itu, kita harus menyadari bahwa mudahnya diri kita terpancing emosi karena berita harus kita batasi dengan tidak langsung memublikasikan kekesalan diri lewat tulisan bernada negatif di media sosial.

Akhir kata, semoga ke depannya negara kita bisa bebas dari masalah serupa. Semoga kerukunan antarumat beragama di Indonesia selalu terjaga. Semoga pihak kepolisian segera menangkap semua pelaku sampai akar-akarnya. Terakhir, turut berduka untuk saudara-saudara kita yang di Surabaya.

Rabu, 04 April 2018

Tulisan

Bahasaku Dinomorberapakan?
Oleh Justianus Tarigan

Ikrar sumpah pemuda 28 Oktober 1928 yang salah satu bunyinya mengatakan bahwa "Kami menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Ikrar ini disepakati oleh pemuda Indonesia pada saat itu yang mereka juga belum tahu pasti kapan Indonesia akan merdeka. Mereka begitu yakin bahwa kesatuan bahasa akan menjadi salah satu pemersatu rakyat Indonesia.

Keyakinan itu akhirnya terus terjaga hingga sekarang. Namun entah mengapa, semakin hari bahasa Indonesia semakin kehilangan kekuatannya. Tak perlu jauh-jauh mencarinya. Komunikasi sehari-hari baik di televisi atau di pusat-pusat perbelanjaan hampir dipenuhi oleh percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing. Bukan hanya itu, merebaknya sosial media turut mempengaruhi percampuran bahasa ini. Lebih jauh, status di medsos keseharian orang-orang mulai menggunakan bahasa asing. Terlepas penulisnya paham bahasa asing atau tidak. Intinya prestise menggunakan bahasa asing lebih tinggi daripada menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini diperparah lagi oleh figur publik yang lebih cenderung menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia pada tulisan status mereka di sosmed.

Yang disebutkan pada paragraf sebelumnya masih dalam tataran informal. Lalu bagaimana dengan tataran formal? Pernah saya kira Anda membaca sebuah pengumuman lowongan kerja. Lowongan kerja dimaksud masih dalam wilayah NKRI. Tapi salah satu syaratnya menyebutkan mahir berbahasa Inggris baik lisan dan tulisan. Saya, entah karena memang jurusan bahasa Indonesia atau terlalu benci pada hal kebarat-baratan, merasa tersinggung. Apakah begitu penting memahami bahasa Inggris sehingga untuk melamar pekerjaan di wilayah NKRI pun wajib paham bahasa Inggris?

Selanjutnya Anda tentu pernah juga membaca informasi beasiswa. Salah satu syarat yang menjadi menakutkan di sana adalah kemampuan bahasa Inggris. Tidak ada pengecualian untuk jurusan apa pun. Artinya untuk orang-orang yang jurusan bahasa Indonesia pun wajib paham bahasa Inggris. Lalu untuk apa mereka belajar bahasa Indonesia kalau yang dipersyaratkan yang lebih penting adalah bahasa Inggris?

Saya sering berpikir bahwa sangat rugi sekalilah mahasiswa-mahasiswa jurusan bahasa Indonesia itu kuliah jika tidak paham juga bahasa Inggris. Padahal mahasiswa jurusan bahasa Indonesia itu selalu menetapkan di hatinya bahwa "Aku harus bangga pada bahasa Indonesia". Ternyata kebanggaannya pada jurusannya harus dibayar mahal dengan wajib paham juga bahasa asing.

Saya jadi teringat ucapan teman yang kuliah jurusan bahasa Prancis. Suatu kesempatan, katanya, orang Inggris berjumpa dengan orang Prancis. Orang Inggris bertanya pada orang Prancis. "Apakah kamu bisa berbahasa Inggri?" tanya si Inggris. Si Prancis menjawab dengan bahasa Prancis "Biarkan orang Inggris yang belajar bahasa Prancis".

Begitulah mereka. Sikap bahasa orang Prancis sangat tinggi sehingga bahasanya selalu dia banggakan. Lalu bagaimana dengan kita? Cobalah datang ke objek wisata terkenal. Bali misalnya. Turis yang ada di sana selalu saja kita layani dengan bahasa mereka. Padahal kita ke negara mer3ka berlibur, bukan kuliah, kita tidak dilayani dengan bahasa kita.

Di akhir tulisan, saya ingin katakan bahwa selayaknyalah kita bangga pada bahasa Indonesia. Kebanggaan itu bisa diperlihatkan dengan menggunakan bahasa Indonesia pada tataran yang semestinya. Karena kalau bukan kita yang membanggakannya lalu siapa lagi?

Selasa, 03 April 2018

Tulisan

Sekelumit Kekecewaan
Oleh Justianus Tarigan

Sore hari di kota besar seperti Medan memang sering macet. Jam pulang kerja membuat jalan dipenuhi oleh kendaraan. Semua pengendara berharap cepat-cepat sampai tujuan untuk melepas lelah karena bekerja seharian. 

Harapan cepat sampai di tujuan ini yang kadang membuat perjalanan di jalan raya kurang memperhatikan rambu-rambu berlalu lintas. Berdesak-desakan. Bahkan, sebagian pengendara motor memasuki area trotoar. Lebih parah lagi, beberapa pengendara kadang terkesan ugal-ugalan berkendara sehingga dapat menyebabkan kecelakaan berlalu lintas. 

Sore ini misalnya saya hendak mau pulang tapi terjebak dalam kemacetan. Macet bukan karena tidak ada rambu lalu lintas. Jelas sekali di perempatan itu ada lampu merah. Tapi sayang sekali lampu merah itu tidak digunakan oleh semua pengendara. Lampu yang sedang menyala berwarna merah tapi tetap saja ada pengendara yang melanggar. Pada saat yang sama, pengendara dari lawan arah berjalan juga. Akhirnya jumpa di tengah semua. Dan tidak ada lagi yang bisa mengalah. Sudah terjebak di tengah semuanya. Lebih parah lagi, tak ada yang mau peduli. Yang lain mencari jalan agar segera terhindar dari kemacetan itu. Alih-alih mau menghindar, tapi semakin menambah kemacetan. Jadinya butuh waktu lama untuk melerai kemacetan ini. 

Kadang terpikir "Sampai kapan keadaan seperti ini tetap terjadi di negeri ini?" Rasanya sulit juga mencari siapa yang perlu dipersalahkan. Lebih arih jika setiap orang mengambil bagian untuk menjaga ketertiban berlalu lintas. Peraturan yang dibuat sebaik apa pun jika pengguna peraturan itu tak pernah sadar akan kewajibannya maka nasib yang sama akan tetap terulang. 


Senin, 02 April 2018

Artikel atau curhatan?

INI INDONESIA?
Oleh Justianus Tarigan

Cita-cita setiap orang berbeda-beda. Ada yang mau jadi guru, ada yang mau jadi TNI, ada yang mau jadi dokter, dan masih banyak lagi.

Cita-cita memang tidak pernah salah. Bahkan hidup tanpa cita-cita sebagian orang menganggap bagai kapal tak punya tujuan.

Begitu juga denganku. Lulus dari semua tingkat persekolahan, aku masuk ke perguruan tinggi. Dari semua perguruan tinggi yang ada, aku hanya ingin masuk ke perguruan tinggi keguruan. Alasannya jelas: mau jadi Guru. Dengan tekad kuat akhirnya diterima di salah satu kampus terbaik di Medan. Jurusan bahasa Indonesia.

Perkuliahan tidak ada masalah yang berarti kutemui. Satu dua masalah menghadang selalu saja terselesaikan dengan baik. Tentunya atas bantuanNya. Yang jadi masalah terbesar selanjutnya, selepas tamat kuliah, adalah cita-cita melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi.

Saat beragam beasiswa yang berseliweran di depan mata, aku hanya terpana tak berkutik melihat salah satu syaratnya, kemampuan bahasa asing. Katakan saja bahasa Inggris.

Barangkali memang butuh ekstra belajar bahasa Inggris supaya bisa mendapatkan beasiswa itu. Dan ini tak pernah kuseriuskan dalam mempelajarinya. Ini salah satu salahku juga.

Alih-alih masih mencari beasiswa, aku coba juga mengajukan lamaran sebagai pengajar bahasa Indonesia di salah satu sekolah. Tak kuduga, sungguh. Yang dites saat penerimaan guru di situ malah bahasa Inggris saja. Waw... dalih sekolahnya adalah karena sekolah menerapkan kurikulum seperti itu. Serasa aku sedang di luar negeri mencari kerjaan sebagai tenaga pendidik.

Padahal kalau mereka mau mengetes aku secara objektif terkait kemampuan mengajar dan kemampuan profesionalku sebagai guru bahasa Indonesia, bukan sombong, aku tidak pernah ragu. Aku tahu diri dalam hal ini.

Jadinya, aku tak tahu apa yang terjadi. Biarlah aku mengawali lagi. Maksudku belajar bahasa Inggris dari buku-buku yang terserak di rak lemari. Kadang aku berpikir, kalau aku sehebat orang yang jurusan bahasa Inggris dalam berkomunikasi dan aku bukan jurusan bahasa Inggris barangkali aku lebih baik jadi pengajar bahasa Indonesia saja di luar negeri. Gaji terjamin plus liburan. Kalau beruntung bisa kuliah lagi di luar negeri.  Tapi itu hanya angan hari ini.

Kadang memang terasa aneh di negeri sendiri. Saat orang barat datang ke negeri sendiri untuk berlibur, mereka membawa budayanya sendiri bahkan kita menggunakan bahasa mereka untuk melayani mereka. Sedangkan saat yang bersamaan kita ke luar negeri untuk tujuan berlibur juga, kita tidak dilayani dengan budaya kita dan bahasa kita.

Begitulah kenyataan sehingga aku berpikir apakah aku sedang di Indonesia?



Minggu, 25 Maret 2018

Artikel

Logika Berbahasa
Oleh Justianus Tarigan


Barangkali sudah banyak tulisan yang membahas tentang logika berbahasa. Tentu saja setiap tulisan yang membahas topik tersebut disertai bukti konkretnya. Artinya penulisnya akan memberikan contoh sebuah tulisan yang di dalamnya terdapat kesalahan logika.

Walau demikian perlu rasanya selalu dibahas dan diingatkan mengenai logika berbahasa ini. Mengingat bahasa itu digunakan oleh penggunanya. Artinya setiap saat akan muncul sebuah ungkapan, katakanlah sebuah kalimat, yang mewakili pikiran pembuatnya. Ungkapan itu akan selalu berbeda seiring dengan tujuan ungkapan itu disampaikan.

Satu contoh ungkapan yang saya temukan dipampang di tepi jalan beberapa minggu lalu berbunyi "Jangan sampai tersentuh narkoba". Tak perlu disebutkan pihak yang memublikasikan tulisan ini. Yang pasti, tulisan ini sebenarnya berupa imbauan kepada masyarakat untuk menjauhi benda terlarang itu (narkoba). Ya, sah-sah saja kita mengatakan demikian. Tidak mungkin tulisan itu mengajak masyarakat menggunakan narkoba. Namun, secara kebahasaan, kalimat ini jelas kurang logis.

Kesalahan logika pada kalimat tersebut terletak pada kata "tersentuh". Imbuhan ter- di sini memiliki makna membentuk kata kerja pasif sehingga kata "narkoba" yang ada di belakangnya bisa menjadi objek pelaku. Sama halnya dengan sebuah kalimat tak sempurna "tertabrak mobil". Kalimat ini juga dapat diartikan bahwa mobil adalah pelakunya/penyebab. Dengan demikian, kembali ke "Jangan sampai tersentuh narkoba" mengartikan bahwa narkobalah yang melakukan perbuatan (menyentuh). Siapa yang disentuh? Tentu maksudnya adalah kita selaku masyarakat. Jadi, bisakah narkoba menyentuh masyarakat? Bukankah narkoba benda mati? Inilah penjelasan ketidaklogisan pada kalimat tersebut.

Lantas, apa seharusnya kalimat yang logis untuk kalimat tersebut? Jawabannya sebenarnya mudah. Ubah saja kata "tersentuh" menjadi "menyentuh" sehingga kalimatnya "Jangan sampai menyentuh narkoba". Kalimat ini sudah tepat mengantarkan maksudnya juga dapat diterima secara logika.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 12 Desember 2017

Film Bukan Sekadar Hiburan
oleh Justianus Tarigan

Menjadi guru adalah pekerjaan totalitas dan punya visi yang kuat mengantarkan peserta didiknya ke jalan kesuksesan. Setidaknya itulah yang kudapatkan dari sebuah film yang kutonton hari ini yang berjudul Coach Carter. Menjadi guru adalah pekerjaan yang mampu mengindentifikasi permasalahan siswa dan dari permasalah ini guru menerapkan sebuah peraturan secara disiplin kepada siswa dan terus berinovasi memperbaiki pembelajaran demi mengantarkan siswa kepada kesuksesan.

Yang menarik bagiku dari film ini adalah Carter bukan seorang guru, tapi pelatih. Namun dia punya visi yang kuat untuk memberikan terbaik kepada siswanya. Visi utamanya bukan sekadar siswanya menang dalam pertandingan tetapi siswanya harus bisa diterima di perguruan tinggi lewat beasiswa. Aku mengikuti jalan cerita film ini dengan sebuah pertanyaan "Apa sebenarnya yang diinginkan Carter sehingga siswanya harus kuliah setelah tamat SMA?" Dalam perjalanan film itu kutemukan bahwa Carter sangat menginginkan siswanya bisa kuliah karena melihat keadaan lingkungan sekitarnya yang jika tidak kuliah maka siswanya akan terpengaruh lingkungan dan bisa berbuat kejahatan. Ini tentu tidak bisa dibiarkan oleh Carter. Dia punya keyakinan bahwa pendidikan tinggi mampu mengubah masa depan siswanya menjadi lebih baik.

Jauh dalam hati aku merenungi diri. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama di sudut desa yang sangat jauh dari kota, aku selalu berpikir bagaimana caranya aku bisa mengenal dunia luar dan hidupku tidak akan sama seperti orang-orang di sekelilingku. Tiada jalan selain lewat pendidikan. Aku berharap tapi dalam kecemasan yang tinggi "Apakah itu sampai?" dan satu per satu jalan kulalui sehingga aku mampu menyelesaikan pendidikan tinggi.

Apakah sudah selesai sekarang karena sudah menyelesaikan pendidikan tinggi? Jawabannya memang belum. Masih jauh jalan kaki akan terus melangkah. Kemana? Itu masih misteri. Sepanjang kaki ini kuayunkan pada jalan yang benar, arah mana pun dia akan berlabuh kutak akan menyesalinya. Biarlah cita-cita terus kugenggam dan terus berusaha dan berharap semoga suatu hari nanti akan hadir sebuah harapan yang selama ini diidam-idamkan.

Jinengdalem, 13 Des 2017

Senin, 11 Desember 2017

motivasi diri

Gerimis Malu Membuncah Jadi Badai Takut
oleh Justianus Tarigan


Kamar bersebelahan dengan musala yang setiap waktu sholat akan mengumandangkan azan belum tentu membawa kita hadir ke tempat itu. Rasanya tak mungkin menyatakan seperti ini karena terlalu dekat dengan sumber azan. Tapi begitulah mahalnya sebuah hidayah yang Dia berikan kepada hambaNya.

---///---

Aku bangun pagi karena mendengar suara kebisingan dari luar kamar. Saat kubuka mataku, sinar matahari sudah menyelinap di sela-sela kaca jendela yang tertutup oleh koran yang kutempel karena tidak ada gordennya.

Saat tangan kugerakkan perlahan menggapai telepon genggam di atas meja yang tidak jauh dariku, waktu sudah pukul enam lebih. Mataku juga masih berat untuk dibuka.

Satu hal yang kupikirkan adalah aku belum menunaikan sholat subuh. Sholat subuh yang begitu mulia terlewatkan. Padahal, kamarmu berbatasan langsung dengan musala yang kami jadikan tempat sholat. Bagaimana mungkin aku tidak bangun saat suara azan berkumandang? Bukankah suara azan selalu nyaring terdengar dari kamar ini?

Aku segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat subuh yang terlewatkan. Setelah salam aku mengingat-ingat. Apakah yang kulakukan sehingga aku tak bisa mendengar suara panggilan yang agung itu? Seketika aku jadi takut. Aku menyadari bahwa tidak ada jaminan aku tidak akan melewatkan sholat subuhku karena kamarku bersebelahan dengan musholla.

Aku menyadari bahwa Allah-lah yang mengingatkan dan membimbingku untuk mau mendekatkan diri kepada-Nya. Satu sisi aku jadi takut dan satu sisi aku menyesali tingkah lakuku yang terlalu sering bermaksiat kepada Allah. Bagaimana seandainya Allah tidak pernah memberikan hidayah-Nya kepadaku sehingga aku tidak bisa mendengarkan panggilan azan setiap kali waktu sholat tiba?

Sungguh aku takut. Aku malu. Aku merasa terhina karena ulahku sehingga aku menjadi jauh dari-Nya. Ya Allah ampunilah hambamu yang hina ini. Berikanlah aku petunjuk-Mu. Tuntunlah hamba-Mu ini ke jalan yang Engkah berkahi dan janganlah Engkau jauhkan hamba dari-Mu sebab Engkaulah tempatku kembali.

Minggu, 10 Desember 2017

Kalimat



Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia


Menulis merupakan aktivitas mengungkapkan buah pikiran ke dalam bentuk tertulis. Hasil menulis adalah tulisan. Tulisan tidak akan menjadi sebuah tulisan yang panjang jika tidak diawali dari sebuah kalimat. Untuk itu, ada baiknya kita mengenal pola dasar kalimat dalam bahasa Indonesia.

Kalimat dalam bahasa Indonesia minimal terdiri atas subjek dan predikat. Walaupun demikian, terkadang ditemukan juga kalimat yang tidak mengikuti struktur ini. Kalimat yang tidak memenuhi struktur ini disebut kalimat minor. Kalimat ini akan dibahas secara terpisah.

Dengan berdasar pada kalimat dalam bahasa Indonesia terdiri atas subjek dan predikat, pola dasar kalimat dalam bahasa Indonesia ada lima, yakni sebagai berikut.

1. Subjek sebagai kata benda dan predikat sebagai kata benda

contoh:  Ayahku dokter.

Ayahku dalam kalimat di atas berfungsi sebagai subjek dan dokter dalam kalimat tersebut berfungsi sebagai predikat. Ayahku tentu kata benda dan dokter juga kata benda. Sebagai tambahan, mengenal kata benda tidaklah sulit. Kata benda (nomina) adalah semua kata yang menunjukkan benda dan yang dibendakan. Salah satu penanda sebuah kata adalah kata benda dapat dilihat dari imbuhan yang melekat pada kata tersebut. Imbuhan pembentuk kata benda misalnya pe-, per-an, pe-an, ke-an, dan -an.

Dari contoh seperti di atas, maka dapat dibuat kalimat yang lain yang sama strukturnya, yaitu sebagai berikut.

2. Nenekku perawat.
3. Kakak seorang guru.
4. Ibu itu pedagang.
5. Istrinya pembuat kue.

Silakan Anda buat sendiri kalimat lain yang pola kalimatnya sesuai dengan yang telah dipaparkan di atas.

2. Subjek sebagai kata banda dan predikat sebagai kata kerja

contoh:  Aku sedang makan.

Kalimat di atas yang berfungsi sebagai subjek adalah aku. Yang berfungsi sebagai predikat adalah sedang makan. Akan tetapi, ada kalanya kalimat seperti ini dapat diperluas dengan menambahkan objek atau pelengkap atau keterangan setelah predikatnya. Misalnya seperti kalimat berikut.

Aku sedang makan nasi goreng.

Aku sebagai subjek, sedang makan sebagai predikat, dan nasi goreng sebagai objek. Pertanyaannya, mengapa bisa hadir objek? Jawabannya adalah karena predikat dalam kalimat ini bisa diikuti oleh objek dan bisa juga tidak. Predikat yang bisa diikuti oleh objek dan bisa juga tidak diikuti oleh objek disebut kalimat semitransitif.

Untuk mengetahui sebuah kata termasuk kata kerja dapat dilihat dari imbuhan yang melekat pada kata tersebut. Biasanya imbuhan me-, ber-, di- merupakan imbuhan pembentuk kata kerja.

Berpedoman pada pola kalimat kedua ini, kita dapat membuat kalimat lain seperti di bawah ini.
2. Anjing itu menggonggong.
3. Budi pergi ke pasar.
4. Kakek bermain bola.
5. Made sedang belajar menulis.

3. Subjek sebagai kata benda dan predikat sebagai kata sifat

contoh:  Dia sangat cantik.

Dia dalam kalimat di atas berfungsi sebagai subjek dan sangat cantik berfungsi sebagai predikat.
Untuk mengetahui sebuah kata termasuk kata sifat kita dapat mengujinya dengan menambahkan kata sangat sebelum kata tersebut atau kata sekali setelah kata tersebut.

Dengan cara yang sama kita dapat membuat kalimat lain seperti yang terlihat di bawah ini.
2. Pemandangan alam ini sungguh indah.
3. Wajahnya bersih sekali.
4. Rumahnya besar.
5. Buku ayah sangat banyak di rumah.

Nah, silakan dibuat kalimat lain yang sepola dengan kalimat di atas untuk menambah pemahaman.

4. Subjek sebagai kata benda dan predikat sebagai bilangan

contoh:  Anakku empat orang.

Kalimat di atas yang berfungsi sebagai subjek adalah anakku dan yang berfungsi sebagai predikat adalah empat orang.Sebagai informasi tambahan, kata bilangan adalah kata yang selalu menunjukkan jumlah atau urutan.

Dengan cara yang sama kita dapat membuat kalimat lain seperti berikut ini.
2. Aku pertama.
3. Kambingku lima ekor.
4. Tanah nenek sepuluh hektare.
5. Emas itu 24 karat.

5. Subjek sebagai kata benda dan predikat sebagai kata depan

contoh:  Dinda ke pasar.

Dinda berfungsi sebagai subjek pada kalimat tersebut dan ke pasar berfungsi sebagai predikat. Yang perlu diingat adalah pola kalimat seperti ini selalu menghadirkan kata depan sebagai predikatnya (di, ke, dan dari). Dengan cara yang sama kita dapat membuat kalimat lain seperti terlihat di bawah ini.
2. Semua uangku di bank.
3. Kekasihnya ke Amerika.
4. Kemarin dia ke Jakarta.
5. John dari Belanda.

Demikianlah lima pola dasar kalimat dalam bahasa Indonesia. Subjek dan predikat selalu akan hadir jika mengikuti pola kalimat yang baku. Subjek dalam kalimat bahasa Indonesia akan selalu diduduki oleh kata benda (nomina) sedangkan predikat bisa dipilih sesuai keinginan penulisnya.

Semoga bermanfaat.


Jumat, 01 Desember 2017

cerpen



Doa Anak dari Sudut Nusantara
Oleh Justianus Tarigan

Tak pernah terbayang oleh Tatin akan tiba di desa ini. Sebuah desa yang jauh dari tempat hidupnya selama in. Tiga pulau besar Indonesia dilewatinya untuk sampai di desa ini. Desa yang berada dalam lingkup Kabupaten Halmahera Utara.

Tatin tiba di sini karena mengikuti program pemerintah dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebuah program yang ditujukan kepada sarjana pendidikan fresh graduate sehingga memiliki semangat mengabdi dan berinovasi demi tercapainya cita-cita mulia: maju bersama mencerdaskan Indonesia.

Tahapan demi tahapan Tatin lalui dan semuanya berakhir dengan kata lulus sehingga dia dapat hadir di desa yang terkenal dengan penghasil rempah-rempah ini.  Walau awalnya berat harus meninggalkan kenyamanan selama ini tapi mau dikata apa. Semuanya tentu sudah digariskan olehNya. Begitulah Tatin menghibur hatinya saat perpisahan dengan keluarga dan berangkat ke daerah ini.

Sebulan sudah Tatin di sini. Menyangkut masalah pribadi, Tatin sepertinya belum menemukannya. Yang didapatinya di sini lebih dari ekspektasinya. Orangtua asuh yang baik dan lingkungan yang nyaman. Dan satu hal yang tidak membuatnya bosan adalah siswa-siswanya yang peduli kepadanya.
Kepedulian siswa-siswa kepada Tatin membuat Tatin juga bersemangat mendidik mereka. Segenap kemampuan dia kerahkan agar siswanya dapat mengerti materi pelajaran yang harus dipahami siswa sesuai kurikulum. Tak tanggung-tanggung, Tatin kadang mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli keperluan mengajarnya karena tak ada bahan yang tersedia di sekolah.

Satu hal yang sampai hari ini Tatin pikirkan adalah masalah buku. Siswa Tatin tidak memiliki buku paket. Oleh karena itu, Tatin harus menerapkan segala taktik untuk menyiasati ketidakadaan buku ini. Yang paling sering digunakan adalah mengajak siswa belajar di perpustakaan. Walau buku yang di perpustakaan tidak semua sesuai dengan bidang studi yang diajarkan, setidaknya buku bacaan itu dapat dijadikan Tatin sebagai alat untuk memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Untungnya, Tatin adalah guru bahasa Indonesia. Jadi, semua buku dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan mengaitkannya dengan materi.

Siswa di sini memang tidak memiliki buku, tetapi semangat belajarnya yang tidak kendur sehingga Tatin tetap semangat mengajar. Apa boleh buat, bukan salahnya juga. Memang beginilah keadaan kalau terlalu jauh dari kota. Semoga saja pemerintah daerah bisa lebih sering meninjau agar tahu kekurangan sekolah di desa. 

Hari ini setelah jam pelajaran berakhir Tatin masih memikirkan cara agar siswanya segera memiliki buku. Belajar di sekolah hanya beberap jam. Selebihnya mereka di rumah. Entah apa yang mereka pelajari kalau tidak ada buku yang dapat dibaca. Kira-kira begitulah bisikan hati Tatin.

Baru saja Tatin mau keluar dari ruangan, hujan pun mulai turun. Tetesan air penuh rahmat ini tampaknya besar-besar sehingga suaranya sangat nyaring saat mengenai atap sekolah. Beberapa guru—sebenarnya hanya sedikit—sudah duluan pulang. Rumah mereka agak jauh sehingga begitu lonceng pulang berbunyi langsung tancap gas untuk pulang. 

Tatin memandangi pekarangan sekolah dari pintu ruangan. Saking derasnya hujan, gedung yang ada di ujung tidak terlalu jelas terlihat. Bunga-bunga yang tertanam di depan gedung bergoyang-goyang karena diterpa air hujan. Bahkan, kambing yang dari tadi berteduh di bawah pohon ketapang berlari ke teras gedung yang Tatin tempati. Tampaknya kambing itu terusik oleh hujan yang terlalu deras.
Tatin tertawa seorang diri. Merasa lucu melihat tingkah kambing yang datang menghampirinya. Setidaknya, Tatin sekarang punya teman, walaupun itu seekor kambing. 

Tiba-tiba guntur dan petir dengan sangat kuat menggelegar. Suaranya sangat memekakkan telinga. Bukan hanya itu, cahaya petir juga sangat terang. Sontak Tatin terkejut. Bahkan, kambing di dekatnya juga mengembik saking kagetnya. Tatin yang awalnya takut jadinya tertawa karena ulah si kambing.
Tatin melihat jam di telepon genggamnya. Sudah menunjukkan pukul 15.00 WIT. Hujan juga belum ada tanda berhenti. Tatin jadi bingung. Antara menunggu hujan reda atau pulang di saat hujan begini. Akhirnya, Tatin mengambil keputusan untuk pulang sambil bermain hujan. Perutnya tidak bisa lagi diajak kompromi. Rasanya cacingnya sudah bermain drum band di dalam menyuarakan minta jatah siang. 

Tatin melepas sepatunya. Tas yang berisi laptop juga ia tinggalkan di sekolah. Hanya hp yang ia baluti dengan plastik dan mengantonginya. Ia bersiap mengunci pintu sekolah. Saat berbalik arah ke gerbang sekolah, dua sepeda motor terdengar bergerak memasuki gerbang dan berhenti di depan gedung tempat Tatin berdiri. 

Ayo Pa. kita antar Pa pi rumah.” Seorang siswa Tatin yang bernama Ul berbicara dengan maksud mengantarkan Tatin ke rumah dengan memberikan tumpangan di sepeda motornya.

“Kalian memang hebat ya. Berani hujan-hujan begini hanya untuk menjemput saya.” Tatin mengapresiasi tindakan siswanya yang sangat peduli itu.

Yang diajak bicara tidak menanggapi karena hujan terlalu deras. Satu siswa lagi, Ewin, menyerahkan mantel antihujan kepada Tatin. Padahal mereka berdua tidak pakai mantel. Tatin sungguh terharu. Mereka sungguh perhatian kepadanya. Mereka akhirnya pulang ke rumah melintasi hujan yang masih lebat. 

Sampai di depan rumah, Tatin langsung turun dari boncengan Ul. Tatin mengajak kedua siswanya itu untuk singgah sejenak tapi mereka menolak. Mereka hanya tertawa sambil melambaikan tangannya saat melaju pulang ke rumah mereka masing-masing. 

123

Malamnya hujan sudah berhenti. Setelah selesai makan malam, Tatin mengeluarkan telepon genggamnya. Dilihatnya pesan masuk. Tidak ada. Kemudian dia pandangi lamat-lamat layarnya. Mengapa tidak ada jaringan telepon pikirnya. Padahal tadi pagi, jaringan untuk menelepon masih ada. Bahkan, dia menelepon orangtuanya pagi tadi. Di sini ada jaringan untuk sekadar telepon dan sms. Jaringan internet yang tidak ada sama sekali. Harus di tempat-tempat tertentu. 

Tatin menanyakan hal ini kepada orangtua angkatnya yang sedang menonton televisi bersama anaknya di ruang tengah. Ya di sini listrik sudah ada, walaupun hanya hidup saat malam hari. Ternyata tower jaringan telepon yang ada di dekat desa rusak karena disambar petir. Otomatis jaringan telepon pun hilang. 

Tatin hanya diam. Kesal tapi tak tahu harus bagaimana. Dia hanya berharap semoga orangtua atau orang-orang penting dalam hidupnya tidak menelepon selama jaringan telepon ini rusak supaya mereka tidak mengkhawatirkan dirinya. Terlebih-lebih ibunya. Ibunya kemarin yang paling sedih saat mengantar Tatin ke bandara.

Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Tatin membuka-buka galeri hp-nya. Dilihatnya satu per satu foto yang masih tersimpan di sana. Ternyata hampir penuh memori  hp itu dikarenakan foto yang sangat banyak. Tatin ingin memindahkan foto itu ke laptopnya tapi sayang dia baru ingat bahwa laptopnya tinggal di sekolah.

Foto di folder yang paling bawah ternyata menyimpan kenangan bersama mantan siswanya dulu. Foto diambil saat Tatin melakukan PPL di salah satu sekolah terbaik di kota asalnya. Tatin memandangi satu per satu foto itu. Tampak raut wajah mereka yang gembira. Tertawa lepas setelah ujian tengah semester. 

Tatin jadi ingat kenangan bersama mantan siswanya itu. Siswanya yang terbilang orang berada tetapi berakhlak mulia. Ingat akan kejadian saat siswanya memberikan surprice di hari ulang tahunnya. Padahal siswanya tidak ada yang pernah bertanya mengenai tanggal lahirnya. 

Tatin tersenyum. Jika dia kemarin menerima tawaran mengajar di sekolah itu kembali, dia tidak akan merasakan seperti hari ini. “Semuanya akan baik-baik saja.” Kata hati sebagai penawar gundah-gulananya keluar lagi. Itulah. Tatin selalu percaya setiap kesulitannya akan ada jalan keluar yang diberikanNya. Pasti.

Tiba-tiba Tatin berpikir. “Bagaimana kalau saya minta tolong kepada mantan siswa saya itu? Mereka orang berada pasti mau membantu. Apalagi permintaanku tidak terlalu berat bagi mereka.” Tatin tiba-tiba bersemangat. Kesalnya tadi karena jaringan telepon hilang pergi begitu saja entah ke mana. 

Tatin berlari ke kamar untuk mengambil buku dan pulpen. Dirobeknya selembar kertas dan mulailah dia menulis di atas kertas itu. Satu kalimat telah terangkai, tetapi menurut Tatin kurang menarik redaksinya sehingga digantinya di kertas lain. Begitulah Tatin sampai beberapa jam. Kemudian tulisan itu akhirnya jadi.

“Selesai. Semoga kata-kata ini menyentuh hati setiap pembacanya.” Tatin bergumam pada dirinya sendiri.

Tatin melihat jam di dinding. Ternyata sudah saatnya tidur. Tatin pun beranjak ke kamar dengan hati yang riang. Semoga rencanaku berhasil pikirnya.

123

Seminggu kemudian. Saat Tatin sedang mengajar di perpustakaan, siswanya bertanya mengenai arti ringan tangan pada bacaan yang dibacanya. Tatin tidak menjawab pertanyaan siswanya, tetapi meminta siswa tersebut membawakan buku Ungkapan dan Peribahasa Bahasa Indonesia yang ada di dalam lemari buku. Kebetulan ada satu buku yang membahas itu di sana. Siswa yang diminta tersebut memenuhi permintaan gurunya. Siswa itu dipandu Tatin untuk mencari pengertian ringan tangan di dalam buku itu. 

“Karena Pak Budi orang berada, dia ringan tangan terhadap tetangganya yang membutuhkan. Ini kalimatnya Pak,” kata siswa penanya.

“Nah, coba lihat di buku itu. Kira-kira mana yang cocok artinya? Suka membantu atau suka memukul/menampar?” Tatin menyuruh siswanya mencocokkan artinya sesuai konteks kalimat.

“Lebih cocok suka membatu, Pak. Kalau suka memukul tidak mungkin. Siapa yang butuh dipukul?” katanya mengartikan pilihannya.

“Ya. Kamu benar. Itu yang lebih tepat. Jadi, ringan tangan itu ada dua artinya. Kamu boleh pakai salah satu sesuai konteks kalimat kamu.” Tatin menjelaskan sedikit supaya siswanya lebih paham.

Siswa yang bertanya akhirnya kembali ke kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba Tatin teringat surat yang ditulisnya seminggu lalu. Tatin mencari surat itu di tasnya. Diletakkannya di atas meja. Kemudian Tatin memfoto surat itu. Saat dilihatnya layar hp-nya dengan saksama, alangkah gembiranya hati Tatin karena jaringan telepon sudah ada. Malah jaringannya 3G. segera Tatin hubungkan ke internet. Tak lama kemudian, pemberitahuan dari media sosial bermunculan. Suaranya tak henti-henti sampai-sampai siswa melihat Tatin sambil senyum-senyum. Tatin membuka satu per satu pemberitahuan itu. Satu per satu pula Tatin harus membalas pesan teman-temannya dari kota. 

Tak buang-buang waktu karena takut tiba-tiba jaringan rusak kembali, Tatin langsung mengirimkan surat yang telah difotonya tadi ke grup mantan siswanya dulu. Tatin lega dan penuh harap semoga saja keinginannya terkabulkan mantan siswanya itu. Karena Tatin tahu mantan siswanya tidak akan menjawab pesan yang disampaikannya karena mereka tidak membawa hp ke sekolah, Tatin melanjutkan membuka semua pemberitahuan medsosnya sambil mengawasi siswa belajar.

Tak terasa jam pelajaran bahasa Indonesia pun selesai. Tatin menutup pembelajaran dengan menyuruh siswanya mengumpulkan tugas yang dikerjakannya tadi untuk diperika. Begitu semua terkumpul, Tatin mengakhirinya dengan salam. 

123

Ribuan kilometer dari tempat Tatin berpijak, seorang siswa bernama Ana menjadi pembaca pertama postingan mantan gurunya, Pak Tatin. Sungguh tersentuh hati Ana membaca tulisan yang dikirimkan gurunya. Rasa persaudaraannya terpanggil untuk membantu saudaranya. Terlebih lagi karena yang meminta sendiri adalah gurunya yang pernah ia kagumi.

Ana memandangi tulisan yang dikirimkan di grup itu sekali lagi. Kemudian pandangannya berpindah arah pada beberapa foto yang juga terlampir. Melihat kondisi sang guru dan siswanya yang sedang belajar tanpa memiliki buku bacaan. Ana hampir menitikkan air mata. Ia menyadari bahwa ketertinggalan di bidang pendidikan di daerah terpencil memang benar adanya. Selama ini dia hanya mendapatkan informasi itu dari media cetak dan televisi tetapi entah mengapa dia merasa biasa saja. Namun, kali ini, saat gurunya sendiri yang mengirimkan foto dan surat itu, dia benar-benar bersimpati.

Ana segera  mengunduh surat dan foto-foto itu. Teman-temannya tidak akan membaca postingan Pak Tatin karena teman-temannya sekarang sudah jarang  membuka akun facebook.  Tak butuh lama, semua berkas itu telah tersimpan di hpnya dan segera ia unggah ke grup kelasnya di media sosial Line. 

Ternyata jam-jam sekarang, pukul 19.20 WIB, adalah jam online teman-teman Ana. Masuknya postingan Ana di grup kelasnya langsung menghebohkan grup itu. Apalagi setelah mereka baca, sumbernya dari Pak Tatin, guru idola mereka. Siswa perempuan bahkan memasang emotikon sedih karena rasa haru bercampur rasa rindu untuk gurunya. Yang laki-laki tidak mau kalah. Mereka membuat emotikon penyemangat untuk gurunya. 

Akhir kehebohan grup itu memutuskan bahwa semua siswa akan berpartisipasi menyumbangkan buku bacaannya, terlebih buku pelajarannya pada tingkat yang sudah dilewati. Buku itu akan dikumpulkan di sekolah paling lama dua hari kemudian. Sebagai tambahan, Ana yang juga koordinator bidang jurnalistik sekolah, akan menyampaikan kabar ini kepada teman-teman sesama ekskul jurnalistik. Tujuannya agar lebih banyak buku yang terkumpulkan. 

Berakhirnya keputusan tentang pengumpulan buku bacaan itu maka grup medsos kelas Ana mulai redup. Satu per satu teman-temannya mengakhiri cerita di grup. Akhirnya, benar-benar redup. Ana juga akhirnya memutus sambungan internetnya. 

123

Tiga hari setelah Tatin mengirim surat itu ke grup mantan siswanya belum juga ada tanggapan. Tatin mulai cemas. Apa mereka tidak mengingatku lagi ya pikirnya. Rasanya tidak katanya pula. Atau jangan-jangan kekuatan jaringan internet di sini terlalu lemah sehingga belum terkirim? Pikirnya lagi. Tapi kemarin sudah terkirim dengan baik kok jawabnya lagi. Tatin mengambil hp nya dan mengeceknya untuk memastikan, ternyata sudah terkirim dengan baik. Tatin akhirnya pasrah pada keadaan. Namun, dalam hati, dia masih berharap semoga siswanya membaca kirimannya itu. 

123

Sepuluh hari telah berlalu tapi Tatin belum juga dapat kepastian tanggapan dari siswanya. Harapannya mulai pupus. Barangkali harus cari cara lain pikirnya. Tapi dia juga belum tahu siapa lagi yang harus dihubunginya. Serasa dia harus menerima keadaan ini sampai waktu akan menghabiskan semua masa pengabdiannya.

Dalam kebingungan yang melanda, tiba-tiba telepon genggam Tatin berbunyi. Nomor baru terlihat di layar. Tanpa pikir panjang Tatin mengangkat panggilan telepon itu.

“Hallo. Selamat pagi” Tatin menyapa seramah mungkin.

“Selamat Pagi. Benar dengan Pak Tatin?” suara di seberang sana terdengar seperti suara perempuan.

“Benar. Ada apa ya?” Tatin menyelidiki.

“Pak Tatin kami dari jasa pengiriman barang ingin menginformasikan kepada Anda bahwa barang Anda berupa buku dari Ana telah sampai di Tobelo. Kami tidak bisa mengantarkan ke alamat bapak karena pengiriman hanya sampai di sini. Mohon diambil ke kantor.”

Tatin tak percaya berita yang barusan didengarnya. Kegembiraanya terlalu besar sehingga yang muncul adalah tawa bersama air mata. 

“Terima kasih Buk. Akan saya jemput hari ini juga.” Kata Tatin dengan suara tercekat di kerongkongannya karena masih menahan tangis kegembiraannya.

Tak lama setelah itu, Tatin langsung menghubungkan hp-nya ke internet. Dicarinya tempat yang paling bagus jaringan internetnya. Untungnya Tatin di sekolah. Tibalah Tatin di dekat perpustakaan sekolah. Sampai di sini hp Tatin sudah dibanjiri oleh pesan dari siswa-siwanya. Air mata Tatin berjatuhan melihat pesan yang dikirimkan siswanya. Ternyata yang mereka kirim adalah foto-foto mereka selama pengumpulan buku-buku itu sampai ke pengirimannya. Mereka sengaja mengirimkannya di hari sampainya barang di daerah tujuan. 

Melihat Tatin menangis, siswa-siswanya bertanya-tanya. Saat siswa sudah mengerumuni Tatin untuk mengetahui permasalahan, Tatin memperlihatkan foto-foto yang dikirim siswanya. Sontak siswa-siswa yang ada di situ senang karena mereka dapat salam dan buku dari saudara mereka, mantan siswa Tatin. 

Hari itu juga Tatin pamit kepada kelapa sekolah untuk menjemput buku itu. Dalam perjalanan pergi dan pulang Tatin sangat bersyukur. Akhirnya, sedikit usaha yang dilakukannya berbuah manis. Tatin pun baru membalas semua pesan siswanya setelah perjalanan pulang dari menjemput buku ke kota. Dia sangat berterima kasih kepada siswanya dan tentunya juga kepada Yang Mahakuasa. Doanya dan doa anak dari sudut Nusantara terkabulkan juga.

selesai

Kamis, 23 November 2017

cerpen



Mengulum Kata 
oleh Justianus Tarigan




Suatu pagi di tempat piket sebuah sekolah aku duduk dengan buku di hadapanku. Hari itu aku bertindak sebagai petugas piket. Karena belum ada pekerjaan yang dapat kulakukan—katakan saja melayani siapa pun—aku menikmati sajian buku yang sengaja kubawa setiap harinya. La Tahzan judulnya.

Tak kusadari seseorang duduk tidak jauh dari tempat aku duduk. Dengan posisi duduk yang kukira sangat santai, dia diam saja. Tanpa sengaja kutolehkan ke arahnya karena kebetulan ada orang yang lewat. Melihat dia di sana aku pun menegurnya. 

“Selamat pagi Pak.” Aku sedikit menunjukkan keramahanku. Tak tanggung-tanggung senyum tulus pun kukembangkan di wajah.

“Selamat pagi.” Dia menjawab salam hangatku berikut dengan senyum kecil di sudut bibirnya.

“Petugas piket ya hari ini?” dia bertanya.

Kupikir itu hanya basa-basi. Sudah jelas sekali aku duduk di meja piket ditambah ada tulisan di atas meja “Guru Piket”. Walau begitu aku tetap menjawab. 

“Iya Pak. Hari ini giliran saya yang bertugas.” Jawabku seperlunya. Karena merasa sungkan kepadanya, kututup buku yang dari tadi kubaca. Kuarahkan pandanganku dan perhatianku seutuhnya pada calon teman berbincangku  ini.

Jujur ini adalah perbincanganku pertama dengan guru-guru di sini. Maksudku perbincangan pertama yang nonfomal karena sebelumnya sudah ada perbincangan formal dengan kepala sekolah berikut dengan beberapa jajaran di sekolah ini.

Sepertinya aku tidak salah menutup bukuku tadi. Mengetahui responsku baik untuk diajak berbincang-bincang, ditodongnya aku dengan sejumlah pertanyaan.

“Apa yang Kamu rasakan selama beberapa hari di sekolah ini?” katanya.

Aku tersenyum. Ini bukan pertanyaan berat pikirku. Namun, di dalam hati aku mengingat bahwa lawan bicara yang bertanya tentang sebuah perspektif kadang menjerat kita dengan jawaban sendiri. Dan aku tak mau jawabanku menghancurkan diriku sendiri. Itu juga mengenai kekonsistenan diri pada sebuah pandangan.

“Saya senang Pak.” Jawabku singkat. “Saya senang dengan kondisi sekolah yang peraturannya mengikat dan teratur pada segala lini di sekolah.”

“O.. begitu ya.” Katanya setelah mendengar respons yang kuberikan.

Aku melanjutkan “Saya juga suka dengan siswanya yang ramah. Maksudku, siswa yang kutemui semuanya ramah. Selain itu, saya suka sekolah yang banyak kegiatan ekstrakurikulernya. Jadi, siswa tidak bosan hanya belajar materi sepanjang hari. Karena sebelumnya saya pernah mengajar di sebuah sekolah yang ekstrakurikulernya banyak dan siswanya nampak dapat mengembangkan minat dan bakatnya pada kegiatan ekstra tersebut”. Kali ini jawabanku agak panjang. 

Kuperhatikan lawan bicaraku hanya manggut-manggut mendengarkan. Namun bagiku, yang kusampaikan adalah benar adanya. Tidak karena aku praktik di sini sehingga aku memuji sekolah ini dengan setinggi langit. Anggukannya juga kuartikan bahwa yang kusampaikan merupakan kebenaran yang bukan dibuat-buat.

“kamu kan orang Medan. Mana lebih dekat ke Aceh atau ke Padang?” kali ini dia bertanya di luar dari konteks pembicaraan sebelumnya.

“Benar Pak. Tapi saya belum pernah ke Padang.” Saya mengakui jujur. “Tapi kalau dari rumah orangtua saya ke Aceh hanya dua puluh menit. Orangtua saya tinggal di perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh Tenggara. Tapi kalau ke Banda Aceh, lumayan jauh Pak. Maksud saya melalui jalur darat.”

“Ada berapa jam kira-kira?” potongnya.

“Ya. Dua belas jam-an Pak.”

“Jauh sekali ya” katanya.

Kali ini aku tak berkomentar. 

“Begitulah keberagaman kita ya” katanya. “Tapi menurut saya” katanya menyambungkan “Kita tidak akan pernah maju kalau kita terus mempermasalahkan soal agama dan keyakinan. Itu kan ranah pribadi. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap hal ini. Orang sudah sampai ke Bulan sedangkan kita masih mempermasalahkan hal ini.” Dia sepertinya membawa perbincangan kami jauh di luar yang kuduga. Suasana pagi yang masih semangat terlihat pada pernyataannya kali ini. 

Ini mungkin juga ada pengaruhnya dari isu yang sendang berkembang di tengah masyarakat pikirku. Sebagai guru aku mengapresiasi beliau mengikuti perkembangan berita tanah air. Di sisi lain aku juga berpikir bahwa semoga dia bisa membaca dan memahami berita dengan jeli. 

Aku pada saat itu tak mengomentari pendapat dia. Kalau nanti kuperpanjang bahkan tak ada juga kesimpulannya. Untuk beberapa saat aku diam. Diamku tidak berarti aku tak mampu menjawab juga. Toh kalau dia punya pandangan berarti aku juga bisa memiliki pemikiran. Mengenai sependapat dan beda pendapat itu tergantung cara menyikapinya. Tapi, karena pandanganku sedikit berbeda dengannya, dan daripada menimbulkan ketegangan, aku lebih baik memendam jawabanku saja.
Akhirnya, entah karena apa dia pamit. 

“Baiklah. Sampai di sini dulu cerita kita. Aku ke sana dulu ya.” Dia menunjuk ke arah yang aku tak paham maksudnya. Ke kantin atau ke ruangan guru atau ke kelas. Samar. Atau boleh jadi, itu hanya jurus perpisahan. Katakan saja basa basi.

Sepeninggalnya aku kembali membuka lembaran buku yang tadi kuangguri. Buat apa bersedih kata buku ini pikirku kembali. La tahzan.

Kubuka lembaran yang sudah kuberi tali pembatas. Aku penuh khusyuk membacanya. Terlelap pada lembaran-lembaran yang penuh inspirasi.

123

Di rumah saat aku ingin menyuci pakaian, tiba-tiba terbersit kembali bincangku dengan guru yang kemarin di meja piket. “Orang sudah ke Bulan sedangkan kita masih begini-begini saja mempermasalahkan hal ini”. Kalimatnya kembali terngiang. 

Otakku kubiarkan mencerna kalimat itu. Tanganku dengan sigap menyikat bagian baju yang kurasa perlu disikat. Setelah itu berpindah pada baju yang lain. Tak terasa cucianku hampir selesai.

“Memangnya orang pergi ke Bulan mau ngapain?” tiba-tiba muncul pertanyaan itu.

“Bukankah ujung-ujungnya nanti yang didapat adalah kemegahan dan kebesaran Sang Pencipta? Kalau pun ditemukan hal-hal luar biasa lainnya dan itu pasti hanya untuk kelangsungan hidup manusia. Jadi sangat memalukankah kalau sebuah bangsa tidak pernah sampai ke Bulan?”
Ah otakku sungguh berpikir dan mencernanya sampai aku sendiri tak mengetahui maksud itu.

“Maka orang-orang yang mempermalasahkan keagamaan itu adalah orang-orang yang mengetahui bahwa agama atau ketuhanan itu adalah yang paling penting. Ini soal akidah. Bagi seorang muslim yang paham agamanya maka dia pasti merasa tersinggung bahwa untuk apa mempermasalahkan agama. Bagi muslim yang tahu, agama dan ketuhanan adalah jalan kehidupannya. Dalam konteks orang sudah sampai ke Bulan sendiri adalah tidak lepas dari ketuhanan. Maksudnya, kalau pun orang sudah sampai ke Bulan lalu apa yang diperolehnya? Bukankah salah satunya adalah rasa takjub akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan sebuah benda yang luar biasa. Dan dari sana juga dia akan melihat bagaimana keluarbiasaan bumi dipandang. Dan itu semua akan bermuara pada satu hal. Tuhanlah yang menciptakan itu semua. Maka sepatutnyalah manusia tunduk dan patuh kepada Tuhan. Dan jalan kebenaran menuju Tuhan adalah yang paling sering diperdebatkan. Dan sebagai seorang muslim, dia akan menjawab sesungguhnya hanya Islamlah agama yang ada di sisi Allah SWT.”
Otakku memberi jawaban atas semua yang dipikirkannya. Aku sekali lagi berpikir dan bersyukur “Otak yang kecil yang bersarang di kepalaku ini adalah salah satu mahakarya Tuhan yang menuntun setiap orang menuju jalan kebenaran. Tentunya dengan arahan dari semua pemberi. Allah SWT.”

 selesai

Jinengdalem, 30 Juli 2017


Antara Totalitas, Estetika, dan Etika
oleh Justianus Tarigan


Pada tahun 2012 lalu saya pernah mengikuti satu forum pertemuan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Surabaya. Salah satu agenda yang harus diikuti oleh peserta adalah pertunjukan sastra yang dibawakan oleh masing-masing peserta yang hadir. Yang hadir berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada malam hari.
Saya pada saat itu sangat bersemangat sekali ingin melihat kebolehan peserta lain dalam bersastra. Saya tidak terlalu pintar dalam bersastra. Untuk itu, saya mengambil posisi terbilang dekat dengan panggung. 

Menarik memang saat kegiatan itu mulai berlangsung. Dengan bergilir, masing-masing peserta mewakili kampusnya unjuk kebolehan di panggung. Ada yang kocak caranya. Ada yang serius dan mengundang kesan mistis. Ada pula yang lari dari tema acara—bersastra—eh dia bernyanyi. Semuanya bagi saya tidak masalah. Toh, ini malam bersastra. Anggap saja dia bernyanyi adalah bagian musikalisasi puisi.

Akhirnya tiba saatnya penampilan teater. Seperti biasa, panggung menjadi gelap terlebih dahulu. Kemudian salah satu lampu dihidupkan. Diiringi oleh musik, pemain mulai menampilkan kebolehannya berteater. Dan tak pernah kuduga, salah satu personel teater tersebut muncul dari belakang kami—penonton. Dengan bertelanjangkan dada dan bertopeng—dia lelaki—dan sehelai kain yang sangat pendek terikat asalan di antara pusat dan pahanya. Dia mulai bergerak seperti kesusahan ke panggung. Dalam peran seperti ini saya dan penonton yang lain masih belum bisa menebak apakah yang akan dilakukan oleh pemeran. Suara penonton pun senyap. Hanya suara music pengiring yang terdengar. Sampai di atas panggung dia dengan berani melepaskan kain yang menempel di antara pusat dan pahanya tadi sambil berteriak sebuah kata yang pada saat itu tidak jelas lagi kudengar karena sontak disahuti oleh teriakan para mahasiswi yang hadir saat itu. Dan tak berselang lama, adegan teater pun berakhir.

Lama saya berpikir apakah yang sedang diteatrikalkan oleh pemeran. Dalam benak saya, barangkali dia mengangkat isu-isu gender. Tapi, entah mengapa, hati saya mengatakan “Apakah tidak ada lagi cara lain yang dapat digunakan selain seperti itu?” Walau aksi teater tadi kesannya sedikit vulgar, hampir seluruh peserta merekam kegiatan itu. Dan kalau boleh saya katakan, memang penampilan teatrikal itu tadi yang paling mengundang perhatian lebih di antara yang lain karena kemasannya yang menarik. 

Dalam perjalanan pulang, saya tetap berpikir “Apa yang membuat saya terkesan sekaligus kurang berterima di hati saya dari teater itu?” Setelah saya telisik, benar bahwa pemerannya amat total dalam berteater dan di sanalah letak salah satu estetikanya. Di sisi lain, di sana pulalah terdapat kekurangan etika sehingga hati saya secara pribadi mengatakan untuk menolaknya.